Pertemuan AS Dijadwalkan, Lebanon dan Israel Bahas Gencatan Senjata

- Sabtu, 11 April 2026 | 04:55 WIB
Pertemuan AS Dijadwalkan, Lebanon dan Israel Bahas Gencatan Senjata

Pemerintah Lebanon baru saja mengumumkan rencana pertemuan dengan Israel. Pekan depan, di Washington, kedua belah pihak akan duduk membahas kemungkinan gencatan senjata. Ini adalah perkembangan terbaru dalam konflik panjang yang melibatkan Israel dan kelompok Hizbullah.

Rencana itu muncul setelah serangkaian komunikasi intens pada Jumat lalu. Duta besar Lebanon dan Israel untuk AS, bersama dengan duta besar Amerika untuk Lebanon, terlibat dalam panggilan telepon yang alot. Dari pembicaraan itu, mereka sepakat untuk bertemu langsung Selasa depan.

“Selama panggilan tersebut, disepakati untuk mengadakan pertemuan pertama Selasa depan di Departemen Luar Negeri untuk membahas deklarasi gencatan senjata dan tanggal dimulainya negosiasi antara Lebanon dan Israel di bawah naungan AS,”

Begitu bunyi pernyataan resmi dari pihak kepresidenan Lebanon. Intinya, pertemuan ini diharapkan bisa membuka jalan bagi negosiasi formal yang selama ini terhambat.

Peringatan Keras dari Hizbullah

Namun begitu, jalan menuju meja perundingan tidaklah mulus. Naim Qassem, pemimpin Hizbullah, sudah lebih dulu menyuarakan kekhawatirannya. Menjelang rencana pertemuan di Washington, ia mendesak pemerintah Lebanon agar berhenti memberikan konsesi cuma-cuma kepada Israel.

Peringatan itu disampaikannya melalui siaran televisi Al-Manar, Jumat lalu.

“Kami tidak akan menerima kembalinya situasi sebelumnya, dan kami menyerukan kepada para pejabat untuk berhenti menawarkan konsesi cuma-cuma,” tegas Qassem.

Ia juga menyoroti kekerasan yang terjadi baru-baru ini. Serangan Israel pada Rabu lalu, yang ia sebut sebagai "kejahatan berdarah", diklaim telah menewaskan lebih dari 300 orang di Lebanon. Suaranya jelas: situasi ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Di sisi lain, dari kubu Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru terlihat membuka opsi dialog. Sehari sebelum pengumuman Lebanon, tepatnya Kamis, Netanyahu menyatakan telah memerintahkan pejabatnya untuk memulai negosiasi langsung dengan Beirut “sesegera mungkin”.

Lucunya, pernyataan itu keluar bersamaan dengan lanjutnya serangan udara Israel di wilayah Lebanon. Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa fokus negosiasi nanti adalah perlucutan senjata Hizbullah dan upaya membangun hubungan damai antara kedua negara.

Amerika Serikat, seperti yang diperkirakan banyak pihak, akan bertindak sebagai tuan rumah. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa negosiasi langsung antara Tel Aviv dan Beirut akan digelar pekan depan di Washington DC.

Pertemuan pembuka direncanakan berlangsung di gedung Departemen Luar Negeri. Duta Besar AS untuk Lebanon, Michel Issa, akan hadir mewakili kepentingan Washington.

Untuk pertemuan penting ini, Tel Aviv mengirimkan Duta Besarnya untuk AS, Yechiel Leiter. Sementara Beirut diwakili oleh Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh-Moawad.

Suasana perundingan diprediksi akan sangat tegang. Seperti dilaporkan Channel 14, media Israel, negosiasi ini “akan berlangsung di bawah serangan”. Sebuah frasa yang merujuk pada eskalasi militer yang masih berkecamuk di selatan Lebanon, mengingatkan semua pihak bahwa waktu untuk berdiplomasi mungkin sangat terbatas.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar