MURIANETWORK.COM - Lonjakan harga cabai rawit merah menjadi penyumbang utama kenaikan harga di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Februari 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, hingga pekan ketiga bulan itu, sebanyak 230 kabupaten dan kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), meningkat dari 199 daerah di pekan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan dimulainya intervensi pasar oleh pemerintah untuk menstabilkan pasokan.
Kontribusi Signifikan Cabai Rawit
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa komoditas cabai rawit memberikan kontribusi yang sangat menonjol terhadap inflasi. Gejolak harganya telah memengaruhi hampir 60 persen wilayah di Tanah Air.
"Cabai rawit ini mengalami peningkatan yang tergolong cukup tinggi sekali," ungkap Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan secara daring, Senin 23 Februari 2026.
Secara nasional, harga rata-rata cabai rawit pada pekan kedua Februari tercatat melonjak hampir 20 persen, dari Rp57.492 menjadi Rp68.928 per kilogram.
Disparitas Harga yang Mengkhawatirkan
Di balik angka rata-rata nasional, tersembunyi disparitas harga yang sangat tajam antarwilayah. Sementara beberapa daerah masih mencatat harga di kisaran Rp23.000 per kilogram, wilayah pedalaman menghadapi situasi yang jauh lebih berat.
Ateng Hartono memberikan contoh ekstrem dari kondisi di Papua. "Harga tertingginya sampai Rp200 ribu. Ini di Kabupaten Nduga," lanjutnya.
Ketimpangan ini menggarisbawahi kompleksitas persoalan, di mana kendala logistik dan geografis memperparah dampak fluktuasi harga di tingkat produsen.
Kendala Pasokan Menjelang Ramadan
Pemerintah mengidentifikasi hambatan pada rantai pasokan sebagai akar masalah. Meski panen telah dimulai di 21 kabupaten dan kota, distribusi ke pasar nasional belum berjalan optimal. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, mengungkapkan kendala unik di sentra produksi seperti Lombok Timur, NTB.
Di sana, faktor sosiokultural menjelang bulan suci Ramadan sempat menghentikan aktivitas panen. "Ada permasalahan historikal di sana, di mana tiga hari sebelum puasa tidak ada aktivitas pemetikan," jelas Agung.
Namun, pihaknya memproyeksikan aktivitas pasokan akan kembali normal dalam satu pekan setelah Ramadan dimulai, seiring dengan dimulainya puncak panen raya di beberapa sentra utama.
Upaya Intervensi Pasar
Untuk meredam volatilitas harga, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan telah meluncurkan aksi intervensi. Sejak 19 Februari, mereka melakukan "guyur pasokan" ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, yang berperan sebagai barometer harga pangan nasional.
Skema ini melibatkan petani binaan untuk menyuplai cabai langsung ke pasar induk dengan struktur harga terkendali: Rp50.000 per kilogram di tingkat petani, Rp55.000 di pedagang pasar induk, dengan target harga konsumen akhir antara Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat stok, menekan harga eceran, dan secara bertahap meredakan tekanan inflasi dari komoditas cabai dalam beberapa pekan ke depan.
Artikel Terkait
Kapolri Imbau Orang Tua Awasi Anak Muda untuk Cegah Tawuran Saat Ramadan
Hodak Jelaskan Alasan Debut Singkat Dion Markx di Kemenangan Persib
Laporan Wardatina Mawa Naik ke Penyidikan, Kuasa Hukum Insanul Fahmi Ancam Minta Perlindungan ke Presiden
Korlantas Tinjau Kesiapan Tol Trans Sumatera Jelang Mudik, Larang Kendaraan Over Dimensi