Di sisi lain, contoh lain juga muncul. Ada menteri yang menyangkal terjadinya pemerkosaan massal pada peristiwa kelam Mei 1998. Bagi Hizkia, ini adalah bukti nyata dari benturan perspektif tadi.
"Ada benturan antara kepentingan praktis politis menteri yang tergabung dalam gerbong politik tertentu, dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 yang seharusnya dijunjung tinggi, dan diimplementasikan oleh sang menteri," tegasnya.
Lalu, apa akibatnya? Hizkia melihat dampaknya langsung ke masyarakat. "Dan buah dari benturan itu adalah problematika yang membelit rakyat, yang seakan berulang terjadi di negeri ini dari masa ke masa," pungkasnya dengan nada prihatin.
Diskusi yang dipandu Ainun Samidah dari Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI itu juga menghadirkan sejumlah pembicara lain. Turut hadir Pengamat Politik Ray Rangkuti, Ketua Bidang Pertanian dan Perikanan DPP GMNI Ferdinando Saferi, serta Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Adi Suherman Tebwaiyanan.
Artikel Terkait
Rakyat Iran Berkabung 40 Hari Gugurnya Ayatollah Khamenei di Tengah Gencatan Senjata
Unpad Buka 3.868 Kursi Jalur Mandiri 2026, Tanpa Kenaikan UKT
Hizbullah Kecam Serangan Israel di Lebanon, Korban Sipil Tembus Ratusan Jiwa
Polisi Segera Panggil Oknum Jaksa Diduga Ancam Satpam Pakai Senjata Api