Asap masih mengepul di Beirut ketika Hizbullah melayangkan kecaman kerasnya. Targetnya jelas: serangan Israel yang dalam beberapa hari terakhir menghantam kawasan sipil di berbagai penjuru Lebanon, termasuk ibukota. Serangan-serangan itu, menurut kelompok tersebut, tak lain adalah bentuk kebrutalan yang mencerminkan kegagalan total Israel di medan perang.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah tak tanggung-tanggung menyebut aksi ini sebagai pembantaian. Mereka mendeskripsikan puluhan serangan udara yang penuh kebencian, menyasar permukiman padat penduduk di Beirut, Saida, dan Lembah Bekaa. Korban berjatuhan. Ratusan tewas dan terluka, banyak di antaranya adalah perempuan, anak-anak, dan orang tua yang tak berdaya.
“Ini kejahatan perang. Bahkan genosida,” begitu kira-kira nada pernyataan mereka. Menurut Hizbullah, menyerang pusat keramaian dan pasar di jam sibuk adalah tindakan putus asa. Sebuah upaya balas dendam yang kotor terhadap warga sipil, setelah mereka gagal mematahkan semangat rakyat Lebanon.
“Rakyat Lebanon telah membuktikan bahwa kebrutalan agresi tersebut justru meningkatkan keteguhan, kekukuhan, dan komitmen mereka terhadap jalur perlawanan, tanpa mempedulikan besarnya pengorbanan yang harus diberikan,”
demikian bunyi pernyataan yang dikutip Al Jazeera, Kamis lalu.
Lebih jauh, kelompok itu membaca serangan ini sebagai tanda kejatuhan mental pihak lawan. Sebuah ekspresi frustrasi rezim Tel Aviv yang, dalam pandangan mereka, sedang terkepung oleh kenyataan kekalahan. “Mereka tak mampu mengubah konstelasi kekuatan yang sudah dibentuk oleh ketahanan rakyat,” imbuh pernyataan tersebut, menyiratkan peran Iran dan Lebanon sebagai satu kesatuan perlawanan.
Intinya, situasi ini dianggap sebagai manifestasi kekacauan internal Israel. Kekacauan yang muncul setelah menerima serangkaian pukulan balik yang menyakitkan dari para pejuang.
Di sisi lain, tekad untuk membalas justru mengeras. Hizbullah menegaskan, darah yang tertumpah tidak akan sia-sia. Justru memperkuat hak mereka secara hukum dan alamiah untuk terus melawan. Mereka berjanji akan terus menghadapi musuh, demi melindungi rakyat dan kedaulatan Lebanon dari agresi yang tak henti ini.
Sementara pernyataan-pernyataan politik bergulir, di lapangan situasinya sungguh pilu. Otoritas Pertahanan Sipil Lebanon menyebut angka korban yang mencengangkan: sedikitnya 254 orang meninggal dan lebih dari 1.160 lainnya luka-luka akibat gelombang serangan terbaru ini.
Rumah sakit-rumah sakit pun kolaps. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan fasilitas kesehatan sudah jebol kapasitasnya, dipenuhi korban luka yang membutuhkan pertolongan segera. Sebuah krisis kemanusiaan yang nyata, mengintai di balik setiap pernyataan dan seruan perang.
Artikel Terkait
Polisi Ajukan Red Notice ke Interpol untuk Buru Otak Pengiriman Pekerja Migran Ilegal ke Kamboja
Ratusan Wali Santri Jemput Anak dari Ponpes Pedang Ati usai Kasus Pencabulan Pimpinan Terbongkar
Ombudsman Dorong Santir dan Pesantren Laporkan Maladministrasi Tanpa Ragu
Polisi Segera Tetapkan Tersangka Perusakan Lapas Narkotika Bolangi Gowa