Jakarta - Ruang publik kembali diramaikan dengan analisis mengenai kinerja kabinet. Hizkia Darmayana, seorang pengamat sosial, mengungkapkan bahwa disorientasi di sejumlah kementerian bukanlah hal yang terjadi begitu saja. Menurutnya, akar masalahnya terletak pada benturan dua sudut pandang yang berbeda: yang etis-ideologis melawan yang praktis-realistis.
Benturan itu, kata Hizkia, muncul karena kepentingan gerbong politik para menteri kerap berbenturan dengan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. "Ini tampak nyata ketika ada kebijakan atau pernyataan para Menteri yang tak selaras dengan nilai-nilai etis dalam Pancasila dan UUD 1945, sebagai dasar dan konstitusi negara kita," ungkapnya.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah diskusi publik yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI), Rabu (18/2) lalu.
Sebagai contoh, Hizkia yang juga Tenaga Ahli Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP itu menyoroti pernyataan seorang menteri beberapa waktu lalu. Menteri tersebut menyatakan tragedi Mei 1998 bukanlah pelanggaran HAM berat.
Hal itu tentu menimbulkan tanda tanya besar. "Apakah sang menteri sedang menjunjung tinggi nilai etis, atau membawa kepentingan politik gerbong politik berikut pimpinannya?" tanya Hizkia.
Di sisi lain, contoh lain juga muncul. Ada menteri yang menyangkal terjadinya pemerkosaan massal pada peristiwa kelam Mei 1998. Bagi Hizkia, ini adalah bukti nyata dari benturan perspektif tadi.
"Ada benturan antara kepentingan praktis politis menteri yang tergabung dalam gerbong politik tertentu, dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 yang seharusnya dijunjung tinggi, dan diimplementasikan oleh sang menteri," tegasnya.
Lalu, apa akibatnya? Hizkia melihat dampaknya langsung ke masyarakat. "Dan buah dari benturan itu adalah problematika yang membelit rakyat, yang seakan berulang terjadi di negeri ini dari masa ke masa," pungkasnya dengan nada prihatin.
Diskusi yang dipandu Ainun Samidah dari Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI itu juga menghadirkan sejumlah pembicara lain. Turut hadir Pengamat Politik Ray Rangkuti, Ketua Bidang Pertanian dan Perikanan DPP GMNI Ferdinando Saferi, serta Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Adi Suherman Tebwaiyanan.
Artikel Terkait
BNN Ungkap Vape Disalahgunakan untuk Konsumsi Sabu dan Ganja Sintetis
Strategi Efisien Mendapatkan Operator Yvonne di Arknights: Endfield
Warga Gelar Tahlilan di Depan Kediaman Jokowi, Ajudan Konfirmasi sebagai Bentuk Dukungan
PBNU Imbau Masyarakat Perhatikan Adab dan Toleransi Saat Membangunkan Sahur