MURIANETWORK.COM - Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) mengimbau masyarakat untuk menjaga toleransi dan adab dalam tradisi membangunkan sahur selama Ramadan 1447 Hijriah. Peringatan ini disampaikan menyusul dimulainya bulan suci, di mana tradisi membangunkan sahur kerap dilakukan di berbagai daerah. Gus Fahrur menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar agar ibadah puasa berjalan khusyuk tanpa mengganggu ketenangan orang lain.
Imbauan Menjaga Adab dan Toleransi
Gus Fahrur menegaskan bahwa meski membangunkan sahur merupakan amalan yang baik, pelaksanaannya harus penuh pertimbangan. Ia mengingatkan agar aktivitas ini tidak justru menimbulkan gangguan, terutama di tengah masyarakat yang majemuk. Nuansa kehati-hatian ini, menurutnya, merupakan bagian dari penerapan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin dalam kehidupan sehari-hari.
“Membangunkan sahur adalah amalan baik, namun pelaksanaannya harus memperhatikan adab agar tidak mengganggu orang lain,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (19/2/2026).
Perhatikan Waktu dan Volume Suara
Secara lebih rinci, Gus Fahrur memberikan dua poin perhatian utama. Pertama, mengenai waktu membangunkan sahur yang tidak boleh terlalu dini sehingga mengorbankan waktu istirahat warga. Kedua, tentang penggunaan volume suara yang wajar dan cara penyampaian yang santun.
“Hindari membangunkan sahur terlalu dini yang dapat mengganggu waktu istirahat masyarakat,” tegasnya. “Gunakan volume yang wajar, jangan berteriak-teriak atau menggunakan pengeras suara secara berlebihan. Gunakan nada yang merdu atau pesan yang santun,” lanjut Gus Fahrur.
Musyawarah di Lingkungan yang Plural
Lebih jauh, Gus Fahrur mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Ia menyoroti pentingnya memperhatikan keberadaan kelompok rentan seperti lansia, orang sakit, bayi, maupun tetangga yang non-muslim. Dalam konteks ini, musyawarah dengan warga sekitar dinilai sebagai langkah bijaksana untuk menemukan titik temu yang nyaman bagi semua pihak.
“Toleransi lingkungan, harap perhatikan keberadaan tetangga non-muslim, lansia, orang sakit, atau bayi yang tidak berkewajiban sahur. Di lingkungan plural, sebaiknya minta izin atau bermusyawarah terlebih dahulu mengenai cara membangunkan sahur,” imbaunya.
Penetapan Awal Ramadan 1447 H
Imbauan ini disampaikan seiring dengan dimulainya Ramadan 1447 Hijriah. Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadan jatuh pada hari ini, 19 Februari 2026. Sementara itu, PP Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal puasa pada Rabu, 18 Februari 2026. Perbedaan ini, yang kerap terjadi akibat metode penentuan yang berbeda, justru menggarisbawahi pesan inti dari Gus Fahrur: pentingnya saling menghormati dalam keragaman, termasuk dalam menjalankan tradisi keagamaan.
Artikel Terkait
Newcastle Hampir Pasti Lolos ke 16 Besar Usai Hancurkan Qarabag 6-1
Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Tojo Una-una, Belum Ada Laporan Kerusakan
Folago Academy Gelar Workshop, Fokuskan Strategi Berkelanjutan untuk Kreator Digital
BNN Ungkap Vape Disalahgunakan untuk Konsumsi Sabu dan Ganja Sintetis