Suasana Hotel Ambhara pagi itu cukup ramai. Bukan oleh turis, melainkan sekitar 250 anak muda dengan semangat yang nyaris terlihat. Mereka berkumpul untuk sebuah workshop pengembangan kreator digital yang digelar Folago Academy. Acara ini jadi ruang berharga buat mereka yang ingin serius berkecimpung di dunia konten, mulai dari belajar mengelolanya hingga mencari celah untuk menghasilkan uang.
Operational Director Assistant Folago, Sachrul Moelyadi, membuka acara dengan nada yang cukup mengejutkan. Ia tak banyak bicara soal likes atau views.
"Folago nggak cuma kejar angka dan viralitas doang. Yang kami bangun itu sistem, strategi, dan bagaimana monetisasinya bisa berkelanjutan buat kreator," ujar Sachrul.
Ia melanjutkan dengan optimisme, "Potensi Indonesia jadi digital powerhouse kelas dunia itu besar banget. Dan kami mau ambil bagian di proses itu." Pernyataannya disampaikan dalam keterangan pers, Rabu (19/2/2026).
Nah, workshopnya sendiri menghadirkan sejumlah pemateri dari dalam Folago. Materinya cukup komprehensif, mulai dari cara membangun identitas sebagai kreator, tips mengembangkan audiens, sampai dikenalkan pada berbagai model monetisasi yang bisa dicoba. Peserta juga langsung praktek, mencoba pendekatan yang baru saja dijelaskan di kelas.
Dalam sesi khusus, Head of Folago Academy, Fajrin Sahaf, memetakan tahapan yang umum dihadapi kreator. Menurutnya, kunci utamanya ada di konsistensi produksi konten. "Lalu, tentukan ceruk audiens dengan jelas. Dan jangan lupa, gunakan data sebagai dasar untuk menyusun strategi berkembang," papar Fajrin.
Dari sisi operasional, Creator Manager Folago GO, Yasmin, punya sudut pandang lain. Ia menekankan betapa pentingnya komunitas dan pendampingan untuk memperluas jangkauan seorang kreator.
Sementara Andrawan Diponugroho, Talent Manager Folago Live Entertainment, bicara soal peluang lain: live streaming. "Penghasilan dari siaran langsung itu nyata, asal dikelola dengan perencanaan performa dan jadwal yang terukur," jelasnya.
Tak ketinggalan, dibahas juga keterkaitan antara konten dengan social commerce. Intinya, bagaimana menghubungkan interaksi yang terjadi di kolom komentar dengan konversi penjualan, tapi dengan cara yang wajar dan transparan tentunya.
Sebagai penyemangat, hadir kreator konten teknologi Andriyadi. Ia berbagi cerita perjalanannya membangun audiens dari sekadar mengulas ponsel. "Konsistensi itu nomor satu. Tapi yang juga gak kalah penting adalah kemampuan baca kebutuhan penonton kita," ungkapnya, menyoroti poin krusial yang sering dilupakan.
Pada akhirnya, workshop ini cuma sebuah awal. Dirancang sebagai forum belajar terbuka, peserta diajak untuk bertanya, mencoba, dan menilai sendiri berbagai pendekatan yang ada. Ke depannya, penyelenggara berencana menggelar acara serupa di kota-kota lain. Tujuannya sederhana: agar akses pelatihan untuk para kreator digital bisa lebih merata.
Artikel Terkait
Lalu Lintas Tol Cikampek Utama Naik 22% Saat Libur Imlek 2026
Bamsoet: BUMN Perlu Perkuat Competitive Intelligence untuk Jaga Reputasi
Mensesneg Tegaskan Kritik Mahasiswa Sah, Imbau Perhatikan Etika dan Adab
Delapan Tewas, Satu Hilang dalam Longsor Salju di Sierra Nevada