Analis Kiwoom Proyeksikan Pasar Modal Indonesia Masuki Fase Eksplosif pada 2026

- Kamis, 19 Februari 2026 | 06:40 WIB
Analis Kiwoom Proyeksikan Pasar Modal Indonesia Masuki Fase Eksplosif pada 2026

MURIANETWORK.COM - Tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik strategis bagi pasar modal Indonesia, menyambut fase baru yang dinamis. Analis dari Kiwoom Sekuritas memproyeksikan tahun tersebut, yang bertepatan dengan Tahun Kuda Api dalam astrologi Tiongkok, akan ditandai dengan akselerasi dan volatilitas tinggi. Pergeseran ini menuntut pendekatan investasi yang lebih lincah, meninggalkan strategi pasif dan beralih ke pemilihan saham yang agresif berdasarkan momentum dan rotasi sektor yang cepat.

Transisi Menuju Era Baru yang Eksplosif

Laporan Kiwoom Sekuritas tidak melihat 2026 sekadar sebagai pergantian tahun kalender. Tahun ini dinilai sebagai katalis pembaruan, menandai transisi dari siklus sebelumnya yang penuh kehati-hatian menuju fase baru yang lebih eksplosif. Fondasi pasar diharapkan menguat seiring dengan proyeksi reformasi struktural dan tata kelola, meski tetap harus berhadapan dengan tantangan volatilitas dari isu transparansi dan dinamika regulasi. Di panggung global, ekonomi dunia diproyeksikan terus menguat, dengan Indonesia diperkirakan berkontribusi sekitar USD1,6 triliun terhadap total PDB dunia yang diprediksi mencapai USD123,6 triliun.

Rotasi Cepat dan Kunci Sukses

Dalam lingkungan seperti ini, strategi buy and hold tradisional dinilai berisiko tergerus inflasi dan gejolak pasar. Kiwoom menekankan bahwa pendekatan aktif, seperti rebalancing portofolio secara berkala dan bermain momentum, akan menjadi kunci. Sektor-sektor yang berbasis ekspansi dan skalabilitas tinggi, seperti ekosistem digital, infrastruktur digital, dan artificial intelligence (AI), dipandang sebagai katalis utama pertumbuhan.

“Dalam Tahun Kuda Api, diam justru menjadi risiko terbesar. Bergerak cepat, atau kita akan terseret oleh derasnya laju pasar,” tulis analis Kiwoom dalam risetnya.

Selain sektor teknologi, perhatian juga tertuju pada industri dengan dukungan makro yang kuat. Ini mencakup transisi energi, hilirisasi komoditas, industri berbelanja modal besar, serta emiten yang menjadi ujung tombak agenda strategis pemerintah. Namun, analis mengingatkan karakter 'api' yang mendorong return cepat juga rentan memicu kejenuhan beli dan koreksi tajam, sehingga disiplin dalam mengambil keuntungan dan mengelola volatilitas mutlak diperlukan.

Mencari Penyeimbang di Tengah Gejolak

Sebagai penyeimbang portofolio, sektor berbasis aset riil dengan aliran pendapatan yang stabil menjadi andalan. Infrastruktur yang sudah matang, properti dengan pendapatan berulang, utilitas, dan bahan baku dasar diposisikan sebagai jangkar ketika dana mulai berputar keluar dari saham pertumbuhan tinggi. Di sisi lain, sektor yang dinilai terlalu konservatif, seperti perbankan besar dengan kebijakan sangat hati-hati atau instrumen yang hanya berfokus pada pelestarian modal, berpotensi tertinggal dalam reli pasar. Kiwoom merekomendasikan untuk bersikap selektif atau mengurangi porsi investasi pada kelompok ini.

Racikan Saham untuk Menangkap Momentum

Berdasarkan analisis mendalam, Kiwoom meracik sejumlah saham pilihan untuk menyambut 2026, dengan katalis spesifik dan narasi pertumbuhan yang kuat. Rekomendasi ini mencakup berbagai sektor, mencerminkan strategi rotasi yang mereka usung.

Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) direkomendasikan dengan target harga Rp5.950, ditopang yield dividen yang menarik. Sementara PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) ditargetkan Rp1.635, mengandalkan pemulihan profitabilitas.

Dari industri pulp dan kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dipatok Rp10.800 seiring penambahan kapasitas produksi. Untuk sektor ritel otomotif, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) ditargetkan Rp540.

Di sektor peternakan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi pilihan dengan target Rp3.110, didorong oleh stabilisasi harga pakan dan program pemerintah. Infrastruktur digital diwakili oleh PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) yang ditarget Rp630, berkat proyek kabel laut dan fiber optik.

Properti diwakili oleh PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) dengan target Rp1.650 setelah membukukan kinerja positif. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dari sektor energi ditargetkan Rp2.000, seiring peningkatan produksi.

Di telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dipatok Rp4.000 dengan katalis spin-off aset. Terakhir, PT RMK Energy Tbk (RMKE) ditargetkan Rp13.100, memanfaatkan perubahan logistik batu bara ke jalur kereta api.

Adaptasi adalah Kunci Utama

Kiwoom menegaskan bahwa 2026 adalah panggung bagi investor yang mampu beradaptasi dan membaca arah angin dengan tajam. Pasar diperkirakan tidak akan bergerak seragam, tetapi didorong oleh emiten dengan narasi kuat dan likuiditas tinggi.

“Tahun 2026 menuntut pergeseran radikal dari strategi pasif menuju agresivitas stock picking,” tegas laporan tersebut.

Dalam konteks ini, strategi keluar dari suatu investasi dinilai sama pentingnya dengan strategi masuk. Di Tahun Kuda Api, yang paling bertahan belum tentu menang; peluang justru berada di tangan mereka yang paling cepat beradaptasi dengan volatilitas untuk mencetak keuntungan optimal.

Disclaimer: Semua keputusan investasi dan transaksi saham merupakan tanggung jawab penuh investor. Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai rekomendasi membeli atau menjual efek tertentu.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar