Pemerintah Pacu Ekonomi 8 Persen, Andriansyah: Uang Harus Bergulir, Bukan Mengendap

- Jumat, 05 Desember 2025 | 21:55 WIB
Pemerintah Pacu Ekonomi 8 Persen, Andriansyah: Uang Harus Bergulir, Bukan Mengendap

Pemerintah punya target yang cukup ambisius: mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029. Nah, untuk mencapainya, sejumlah kebijakan fiskal kini digeber habis-habisan.

Beberapa program sudah berjalan. Ambil contoh, ada suntikan dana besar-besaran senilai Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank Himbara. Lalu, ada juga Program Magang Nasional, Paket Stimulus Ekonomi 8 4 5, serta BLTS Kesejahteraan Rakyat. Semua ini digadang-gadang jadi motor penggerak.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta akhir pekan lalu, Andriansyah, Direktur Strategi Produktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi DJSEF Kemenkeu, mengungkapkan keyakinannya.

"Itulah yang membuat kita masih optimistis tentang target-target yang ingin kita capai, karena kita juga mempunyai instrumen yang kita pakai,"

Katanya begitu. Menurutnya, instrumen fiskal itu memang krusial.

Di sisi lain, Andriansyah juga menekankan peran APBN. Anggaran negara ini bukan cuma soal belanja, tapi diharapkan bisa jadi katalisator pertumbuhan.

"Jadi yang tak kalah penting adalah APBN itu bisa menjadi katalis,"

Ujarnya.

Masalahnya, sebagian besar dana APBN kan dialirkan ke daerah lewat transfer. Di sinilah perhatian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tertuju. Beliau konon sangat memperhatikan soal penyerapan anggaran di level pemda.

"Makanya itu Pak Purbaya juga concern, sejauh mana anggaran Pemda itu diserap, tidak hanya apakah uang itu dibelanjakan, atau hanya uang itu disimpan dalam BPD, sehingga itu kemarin menjadi sempat diskusi juga,"

Jelas Andriansyah. Intinya, uang harus bergulir, bukan mengendap.

Lalu, ada juga fokus untuk APBN 2026. Anggaran tahun depan diharapkan jadi motor pembangunan dengan delapan agenda prioritas. Mulai dari ketahanan pangan, kesehatan, sampai yang sedang ramai dibicarakan: program makan bergizi gratis dan ketahanan energi.

Soal pendidikan, ada penekanan khusus. Program LPDP disebut-sebut akan ditingkatkan efektivitasnya, terutama untuk mendukung bidang teknologi dan ekonomi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, semua kebijakan moneter dan fiskal ini harusnya bermuara ke satu tempat: sektor riil. Andriansyah punya analogi yang cukup menarik tentang hal ini.

"Pada intinya adalah sektor riil. Atau bahasanya saya pribadi, sektor keuangan yang menjadi anak durhaka sektor riil. Sektor keuangan dibentuk adalah untuk menjembatani agar unit surplus dengan unit defisit untuk membantu sektor riil,"

Pungkasnya. Jadi, semua instrumen tadi, kalau mau sukses, ya harus benar-benar menyentuh lapangan. Bukan cuma angka di atas kertas.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar