Kisah Nurhadi dan Sampah yang Menggugat: Ketika Viralitas Tak Sejalan dengan Fakta

- Selasa, 25 November 2025 | 21:48 WIB
Kisah Nurhadi dan Sampah yang Menggugat: Ketika Viralitas Tak Sejalan dengan Fakta
Kisah Nurhadi

Sebuah unggahan di media sosial X sempat bikin hati miris. Seorang driver online membagikan cerita tentang Nurhadi, seorang penyandang disabilitas yang disebut-sebut hidup sendirian di Kampung Tenggelius, Tambun Selatan, Bekasi.

Yang bikin driver itu kaget bukan main adalah kondisi di dalam kamar Nurhadi. Ia terbaring di atas kasur, dikelilingi oleh sampah plastik bekas makanan yang berserakan. Pemandangan yang sungguh memilukan.

Unggahan itu langsung jadi buah simalakama. Banyak warganet yang tergerak hatinya, tapi tak sedikit juga yang protes. Mereka mempertanyakan kemana perginya bantuan sosial yang seharusnya diterima Nurhadi. Ada yang sampai mendesak agar ia dievakuasi dari tempat itu, karena dikira benar-benar tak ada yang peduli.

Tapi, cerita yang beredar di dunia maya ternyata tak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan. Setelah ditelusuri lebih jauh pada hari Selasa lalu, kondisi sebenarnya justru berbeda.

Keluarga Ternyata Ada di Samping Rumah

Arman, sang Ketua RT, mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Menurutnya, Nurhadi sama sekali tidak tinggal sendirian. Ia menempati rumah petakan yang letaknya persis di samping rumah ayahnya yang kini sudah membina rumah tangga baru.

"Nurhadi tidak tinggal sendirian. Ada keluarga yang selalu membantu keperluannya," tegas Arman.

Ia juga menegaskan bahwa bantuan untuk Nurhadi sebenarnya sudah berjalan. Mulai dari bantuan rutin dari pemerintah desa dan kecamatan, sampai bantuan spontan dari warga sekitar yang sering datang. Soal makan pun sebenarnya tak pernah ada masalah. Hanya saja, Nurhadi lebih suka pesan makanan via ojek online atau beli sendiri ketimbang masak di rumah.

"Sampai sekarang kebutuhan hariannya tercukupi. Untuk makan, dia biasa pesan melalui layanan ojek online atau membeli sendiri. Dia memang kurang selera makan masakan rumah," ujar Arman.

Fadzuri, seorang petugas dari Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kementerian Sosial yang turun mengecek, membenarkan temuan Arman.

“Saya pikir awalnya tidak ada keluarga yang mengurus. Ternyata keluarganya ada. Bantuan juga ada. Kita siap membantu jika diperlukan,” katanya.

Ia menambahkan, "Tadinya jika benar sesuai berita yang viral saya diminta membawa Nurhadi ke Dinas Sosial terkait. Namun ternyata beda, jadi saya hanya menampung keinginan Nurhadi saja. Nanti akan saya teruskan ke pimpinan."

Kisah Dibalik Kelumpuhannya

Kondisi kelumpuhan yang dialami Nurhadi ternyata bukan bawaan lahir. Nasib sial menghampirinya lewat dua kali kecelakaan. Pertama terjadi saat ia masih remaja, yang mengakibatkan kedua kakinya patah. Kemudian, musibah kedua datang saat ia mandi di sumur jatuh itu membuat kedua tangannya bengkok dan akhirnya membuatnya tak bisa lagi berjalan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar