Ia juga menegaskan bahwa bantuan untuk Nurhadi sebenarnya sudah berjalan. Mulai dari bantuan rutin dari pemerintah desa dan kecamatan, sampai bantuan spontan dari warga sekitar yang sering datang. Soal makan pun sebenarnya tak pernah ada masalah. Hanya saja, Nurhadi lebih suka pesan makanan via ojek online atau beli sendiri ketimbang masak di rumah.
"Sampai sekarang kebutuhan hariannya tercukupi. Untuk makan, dia biasa pesan melalui layanan ojek online atau membeli sendiri. Dia memang kurang selera makan masakan rumah," ujar Arman.
Fadzuri, seorang petugas dari Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kementerian Sosial yang turun mengecek, membenarkan temuan Arman.
“Saya pikir awalnya tidak ada keluarga yang mengurus. Ternyata keluarganya ada. Bantuan juga ada. Kita siap membantu jika diperlukan,” katanya.
Ia menambahkan, "Tadinya jika benar sesuai berita yang viral saya diminta membawa Nurhadi ke Dinas Sosial terkait. Namun ternyata beda, jadi saya hanya menampung keinginan Nurhadi saja. Nanti akan saya teruskan ke pimpinan."
Kisah Dibalik Kelumpuhannya
Kondisi kelumpuhan yang dialami Nurhadi ternyata bukan bawaan lahir. Nasib sial menghampirinya lewat dua kali kecelakaan. Pertama terjadi saat ia masih remaja, yang mengakibatkan kedua kakinya patah. Kemudian, musibah kedua datang saat ia mandi di sumur jatuh itu membuat kedua tangannya bengkok dan akhirnya membuatnya tak bisa lagi berjalan.
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim Jelaskan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Ditempatkan di Jakarta
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Semarang Hari Ini, 27 Februari 2026
Kreator Konten di Gowa Didenda Rp1 Miliar karena Siarkan Ilegal BYON Combat
Mahasiswi UIN Suska Riau Diserang Senjata Tajam di Ruang Sidang Kampus