Jamu Coro Demak Bertahan di Tengah Banjir Takjil Kekinian

- Jumat, 27 Februari 2026 | 02:45 WIB
Jamu Coro Demak Bertahan di Tengah Banjir Takjil Kekinian

Di tengah gemerlap minuman kekinian yang membanjiri pasar takjil, ada satu warisan yang tak lekang. Jamu Coro, minuman tradisional asli Demak, ternyata masih punya tempat spesial di hati masyarakat, terutama saat Ramadan tiba. Aroma rempahnya yang khas seolah jadi penanda bahwa bulan puasa telah datang.

Latif, salah satu penjual setia di Jalan Bhayangkara, mengaku usaha ini adalah warisan keluarganya. "Dulu nenek saya yang memulai," katanya. Kini, ia sendiri yang meneruskan. Setiap hari, mulai sore sekitar pukul setengah tiga, gerobaknya sudah siap menyambut pelanggan. Dagangannya berhenti hanya ketika adzan Magrib berkumandang.

"Alhamdulillah, setiap Ramadan selalu ramai. Dalam sehari bisa terjual ratusan porsi,"

ujar Latif pada suatu Kamis di akhir Februari lalu. Senyumnya mengembang, menandakan bahwa tradisi ini masih cukup menghidupi.

Harganya yang merakyat, cuma tiga sampai empat ribu rupiah per gelas, jelas jadi salah satu daya tarik utamanya. Tapi bukan cuma itu. Banyak pembeli yang justru datang karena rindu akan rasa dan kebiasaan. Seperti Dwi Teguh, salah satu pelanggan yang setia.

“Rasanya hangat dan pas diminum saat buka puasa. Selain itu, ini minuman tradisional yang jarang ditemui,”

katanya. Bagi dia, Jamu Coro bukan sekadar pelepas dahaga, tapi juga pengingat akan akar budaya.

Minuman ini sendiri punya sejarah panjang, konon sudah ada sejak era Kerajaan Demak. Racikannya sederhana namun penuh khasiat: jahe, merica, dan gula jawa berpadu menciptakan sensasi hangat yang langsung terasa hingga ke kerongkongan. Banyak yang percaya, jamu ini bisa mengembalikan stamina setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Nah, di sisi lain, kemampuannya bertahan di tengah gempuran bubble tea dan kopi kekinian itu justru yang menarik. Keberadaan Jamu Coro membuktikan bahwa selera masyarakat itu nggak cuma satu arah. Di balik tren yang datang dan pergi, selalu ada ruang untuk sesuatu yang autentik, yang punya cerita.

Momentum Ramadan, dengan caranya sendiri, menjadi semacam festival tahunan bagi kuliner tradisional macam ini. Ia adalah kesempatan emas untuk mengingatkan generasi sekarang, bahwa warisan nenek moyang itu rasanya tetap relevan. Dan selama masih ada yang menjual, serta yang membeli, warisan seperti Jamu Coro kecil kemungkinannya akan hilang begitu saja ditelan zaman.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar