Tapi, tantangan terbesarnya justru bukan di calon presiden. "Kesulitan kita itu adalah wapresnya siapa? Selain Prabowo siapa?" tegas Ray. Pencarian figur wakil presiden yang pas ternyata lebih rumit.
Munculnya nama-nama baru ini bukan tanpa dasar. Survei terbaru dari Indonesian Public Institute (IPI) memang mencatat Sjafrie masuk bursa, bersama sejumlah gubernur dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Peneliti IPI, Abdan Sakura, bilang munculnya wajah-wajah baru ini dipengaruhi faktor-faktor seperti kepemimpinan, ketokohan, dan rekam jejak. Publikasi media serta integritas juga berperan.
Dia ambil contoh Sjafrie. Elektabilitasnya ditopang kepemimpinan dan ketokohan (44%), rekam jejak (17%), rekomendasi lingkungan dan media (12%), serta integritas (10%).
"Tokoh-tokoh, seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat," ujar Abdan.
"Meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral."
Celah inilah yang membuka ruang bagi dinamika politik baru. Apalagi jika nanti terjadi krisis, perubahan koalisi, atau absennya pemain utama. Sementara itu, rendahnya elektabilitas beberapa tokoh populer lainnya menunjukkan satu hal: popularitas saja tak cukup lagi. Pemilih sekarang lebih rasional dan kontekstual dalam menimbang pilihan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Perintahkan Reklamasi Lahan KAI untuk Kepentingan Negara
Vivo T5 Pro Dikabarkan Segera Rilis di Indonesia, Bawa Spesifikasi Unggulan
Iran Minta Saudi dan UEA Jelaskan Insiden Drone China yang Ditembak Jatuh di Shiraz
Petugas PPSU di Kalisari Diberi SP1 Gara-gara Pakai Foto AI untuk Laporan Parkir