Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, punya pesan tegas untuk kampus-kampus di seluruh Indonesia: waktunya serius mendigitalkan segala hal. Dari urusan administrasi yang berbelit hingga tugas-tugas kuliah, semua harus beralih ke dunia digital. Hal ini ia sampaikan langsung dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Menurut Brian, budaya kerja yang efisien harus dibangun. Bayangkan, proses seperti pendaftaran atau minta transkrip nilai tak lagi perlu antre panjang. Cukup dari gawai. “Kita juga minta tugas-tugas, ya, itu sebisa mungkin digital,” ujarnya.
“Contohnya, tugas akhir yang dulu wajib cetak lima eksemplar, bisa dikurangi.”
Ia meyakini langkah ini bukan cuma mempermudah mobilitas mahasiswa, tapi juga mengurai tumpukan beban administratif yang selama ini membebani kedua belah pihak, baik mahasiswa maupun kampus. Hasilnya? Sistem perkuliahan yang jauh lebih praktis, efisien, dan tentu saja, ramah lingkungan.
Di sisi lain, ada kebijakan lain yang tak kalah menarik. Kemendiktisaintek juga mengimbau perguruan tinggi untuk mengatur ulang jadwal kuliah. Tujuannya, memberi ruang bagi dosen untuk bekerja dari rumah sekali dalam seminggu.
Caranya? Dengan memadatkan jadwal mengajar menjadi empat hari kerja yang lebih fokus.
“Jadi, bagaimana caranya agar dosen-dosen itu bekerja tidak tersebar di lima hari, tetapi barangkali bisa empat hari. Satu hari sisanya bisa dipakai untuk bekerja dari rumah,” jelas Brian.
Semua arahan ini bukan sekadar imbauan biasa. Kebijakan tersebut merujuk pada Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 yang resmi diterbitkan kementerian pada 2 April lalu. Isinya cukup detail.
Perguruan tinggi didorong menerapkan pembelajaran jarak jauh secara proporsional, terutama untuk mahasiswa tingkat atas mulai semester lima ke atas dan mahasiswa pascasarjana. Tapi, tentu ada pengecualian. Untuk mata kuliah yang menuntut kehadiran fisik seperti praktikum, kerja bengkel, atau sesi di studio dan klinik, perkuliahan tatap muka tetap diutamakan.
Selain itu, kampus juga diminta mengoptimalkan platform digital yang ada. Harapannya jelas: layanan pendidikan tinggi bisa lebih efisien dan benar-benar selaras dengan tuntutan zaman digital sekarang. Langkah ini diharapkan bukan sekadar gimmick, tapi benar-benar mengubah cara kerja lama yang kerap dianggap kaku.
Artikel Terkait
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Sulawesi Selatan Siang Ini
Presiden Prabowo Tiba di Paris, Akan Salat Idul Adha Bersama WNI di Prancis
Kebakaran Hanguskan Rumah Produksi Tahu Goreng di Asahan, Tidak Ada Korban Jiwa
Presiden Prabowo Hibahkan Sapi Kurban 1,5 Ton untuk Warga Bone