Analis: Peluang Duet Prabowo-Sjafrie di Pilpres 2029 Dinilai Minim

- Kamis, 19 Februari 2026 | 00:30 WIB
Analis: Peluang Duet Prabowo-Sjafrie di Pilpres 2029 Dinilai Minim

Nama Sjafrie Sjamsoeddin tiba-tiba ramai dibicarakan masuk dalam bursa calon presiden 2029. Kehadirannya, mau tak mau, bikin peta politik nasional jadi lebih dinamis. Tapi, jangan buru-buru membayangkan dia bakal berpasangan dengan Prabowo Subianto. Peluangnya dinilai sangat kecil.

Pengamat politik Ray Rangkuti punya pandangan menarik soal ini. Menurut dia, kecilnya peluang itu karena keduanya punya latar belakang yang sama: purnawirawan TNI. Itu jadi pertimbangan utama yang bikin skenario pasangan mereka kurang realistis.

"Masuknya Pak Sjafrie ke bursa capres 2029 itu sebenarnya agak sulit ya dipasangkan dengan Pak Prabowo," ujar Ray, Rabu (18/2/2026).

"Rasanya enggak mungkin ada dua orang TNI dipasangkan bersama-sama."

Dia bilang, kesamaan latar belakang militer itu justru berpotensi menimbulkan resistensi. Baik di kalangan elite politik sendiri, maupun di mata masyarakat. Jadi, kalau Sjafrie tetap masuk kontestasi, komposisi dia dengan Prabowo dinilai kurang ideal. Terlalu mirip.

Lalu bagaimana kalau Sjafrie tidak bersama Prabowo? Situasinya malah seperti 'perlombaan' di pasar pemilih yang relatif sama. "Kalau dia tidak dengan Pak Prabowo, itu sepertinya kayak perlombaan di bursa yang sebenarnya sama," ucap Ray.

Di sisi lain, munculnya nama baru seperti Sjafrie pasti bikin dinamika tersendiri di internal elite. Bisa dilihat sebagai peluang strategis, tapi tak menutup kemungkinan dianggap ancaman politik. "Bisa saja Pak Prabowo melihat ini peluang, atau sebaliknya melihat ini semacam ancaman," tambahnya.

Namun begitu, Ray mengakui ada sisi positifnya. Semakin banyak nama yang muncul, publik justru diuntungkan. Masyarakat punya lebih banyak alternatif untuk memilih. Beberapa nama yang disebutnya menonjol selain Sjafrie antara lain Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, sampai Sandiaga Uno. Ada juga Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar