Pernyataan ini konon disampaikan saat pertemuan pribadi keduanya di Mar-a-Lago, Florida, akhir tahun lalu. Baru belakangan ini kabarnya mencuat, bersamaan dengan dimulainya kembali perundingan.
Yang lebih menarik, diskusi di kalangan pejabat militer dan intelijen AS dikabarkan sudah bergeser. Bukan lagi soal apakah Israel bisa menyerang, tapi lebih ke bagaimana AS bisa memfasilitasi serangan itu, baik secara teknis maupun diplomatik. Ini perkembangan yang signifikan.
Di sisi lain, ada sedikit celah optimis dari pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran. Mereka menilai posisi AS dalam masalah nuklir ini mulai bergerak ke arah yang "lebih realistis". Tapi, apakah itu cukup? AS tetap mendesak pembahasan isu-isu lain yang dianggap meresahkan, seperti program misil balistik Iran dan dukungannya pada kelompok bersenjata di Timur Tengah.
Kekhawatiran utama AS dan sekutu Eropa-nya tetap sama: program nuklir Iran yang diduga mengarah pada pembuatan senjata. Teheran tentu saja membantahnya. Negosiasi di Jenewa ini, dengan mediasi Oman, mencoba menjembatani jurang ketidakpercayaan yang dalam itu. Ancaman militer, dukungan untuk Israel, semua jadi kartu yang dipertaruhkan di meja perundingan. Hasilnya? Kita lihat saja. Suasana masih sangat tegang.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Perintahkan Reklamasi Lahan KAI untuk Kepentingan Negara
Vivo T5 Pro Dikabarkan Segera Rilis di Indonesia, Bawa Spesifikasi Unggulan
Iran Minta Saudi dan UEA Jelaskan Insiden Drone China yang Ditembak Jatuh di Shiraz
Petugas PPSU di Kalisari Diberi SP1 Gara-gara Pakai Foto AI untuk Laporan Parkir