Negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru. Kali ini, pembicaraan digelar di Jenewa, Swiss, pada hari Selasa lalu. Ini adalah pertemuan kedua setelah pembicaraan sebelumnya di Oman sebulan yang lalu. Semuanya berjalan di bawah bayang-bayang ultimatum keras dari Washington.
Presiden AS Donald Trump sendiri yang memberikan sinyal tegas. Dalam perjalanannya kembali ke Washington, dia berbicara kepada para wartawan. Trump mengaku akan memberi perhatian khusus pada proses ini, meski dari kejauhan.
"Saya akan terlibat dalam pembicaraan itu, secara tidak langsung," ujarnya, seperti dilansir AFP.
"Saya tidak berpikir mereka menginginkan konsekuensi jika tak mencapai kesepakatan," tambah Trump, tanpa merinci lebih jauh ancaman apa yang dimaksud.
Konsekuensi serius itu menggantung di udara. Menurut sejumlah laporan, ancaman itu bukan sekadar omong kosong. Bahkan, ada kemungkinan tindakan militer yang melibatkan sekutu terdekat AS di kawasan itu.
Dukungan AS untuk Serangan Israel?
Informasi yang beredar cukup mencegangkan. Media AS, CBS News, melaporkan bahwa Trump telah memberi lampu hijau kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Intinya, jika perundingan dengan Teheran mentok, Washington akan mendukung serangan Israel terhadap program rudal Iran.
Pernyataan ini konon disampaikan saat pertemuan pribadi keduanya di Mar-a-Lago, Florida, akhir tahun lalu. Baru belakangan ini kabarnya mencuat, bersamaan dengan dimulainya kembali perundingan.
Yang lebih menarik, diskusi di kalangan pejabat militer dan intelijen AS dikabarkan sudah bergeser. Bukan lagi soal apakah Israel bisa menyerang, tapi lebih ke bagaimana AS bisa memfasilitasi serangan itu, baik secara teknis maupun diplomatik. Ini perkembangan yang signifikan.
Di sisi lain, ada sedikit celah optimis dari pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran. Mereka menilai posisi AS dalam masalah nuklir ini mulai bergerak ke arah yang "lebih realistis". Tapi, apakah itu cukup? AS tetap mendesak pembahasan isu-isu lain yang dianggap meresahkan, seperti program misil balistik Iran dan dukungannya pada kelompok bersenjata di Timur Tengah.
Kekhawatiran utama AS dan sekutu Eropa-nya tetap sama: program nuklir Iran yang diduga mengarah pada pembuatan senjata. Teheran tentu saja membantahnya. Negosiasi di Jenewa ini, dengan mediasi Oman, mencoba menjembatani jurang ketidakpercayaan yang dalam itu. Ancaman militer, dukungan untuk Israel, semua jadi kartu yang dipertaruhkan di meja perundingan. Hasilnya? Kita lihat saja. Suasana masih sangat tegang.
Artikel Terkait
Presiden Trump Sampaikan Ucapan Ramadan dan Tegaskan Komitmen Kebebasan Beragama
KAI Catat Puncak Arus Balik Penumpang Imlek-Ramadan di Jakarta
Andre Rosiade Salurkan 5.000 Paket Sembako ke Warga Sawahlunto Jelang Ramadan
KPK Sita Uang Rp 5 Miliar Lebih di Safe House Kasus Suap Bea Cukai