Cholil Nafis, Wakil Ketua Umum MUI, mengungkap sebuah komitmen tegas dari Presiden Prabowo Subianto. Komitmen itu disampaikan Prabowo saat bertemu dengan sejumlah perwakilan ormas Islam. Intinya? Presiden siap mundur dari Board of Peace atau Dewan Perdamaian jika jalannya ternyata tak searah dengan nilai yang dipegang Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Cholil sendiri menyampaikan beberapa poin penting kepada Prabowo. Visinya harus jelas: penjajahan di mana pun wajib dihapuskan, itu amanat konstitusi. Namun begitu, Cholil mengaku masih skeptis. Alasannya sederhana; Israel masih terus menyerang Gaza padahal gencatan senjata sudah disepakati.
"Saya yang menyampaikan langsung, kami skeptis karena apa? Karena Netanyahu sampai sekarang tidak mengakui negara Palestina," kata Cholil.
Lalu ia menambahkan, "Yang kedua, serangan itu masih ada."
Pernyataan itu disampaikannya kepada wartawan di sekitar Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa lalu.
Tak cuma soal serangan, Cholil juga menyoroti peran pasukan perdamaian. Jangan sampai, pasukan Indonesia yang dikirim justru berhadapan dengan Hamas. Ia ingin pastikan bahwa perlawanan rakyat Palestina untuk merdeka tidak dilawan oleh kita. Poin lainnya, ia menekankan bahwa perdamaian yang diperjuangkan haruslah nyata, bukan sekadar damai semu yang membiarkan penjajahan tetap berlangsung.
"Ketiga, kita ingin pasukan perdamaian kita jangan menjadi pasukan yang melawan Hamas, melawan terhadap perlawanan rakyat Palestina untuk merdeka," tegasnya.
"Yang keempat, kita tidak ingin hanya damai semu, sementara mereka terjajah. Kita ingin damai dan merdeka."
Artikel Terkait
Seif Al-Islam Khadafi Tewas Diserbu Komando di Kediamannya
DPRD Se-Indonesia Protes Pemotongan Dana Transfer ke Daerah
Megawati Bicara di Abu Dhabi: Gotong Royong Kunci Redam Konflik Horizontal
Megawati: Perempuan Tak Perlu Terjebak Dilema Palsu antara Rumah dan Masyarakat