Di ruang rapat Gedung Nusantara II, Senayan, suasana terasa berat saat membahas nasib korban child grooming. Putu Elvina, Wakil Ketua Komnas HAM Bidang Eksternal, dengan suara lirih namun tegas menyoroti sebuah masalah yang sering luput dari perhatian: beban psikologis yang harus ditanggung para korban. Menurutnya, beban itu sungguh luar biasa berat.
"Karena biasanya korban-korban child grooming itu mengalami trauma yang sangat panjang," ujar Elvina dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XIII DPR, Senin lalu.
Dampaknya bisa lebih mengerikan. Elvina melanjutkan, trauma yang berkepanjangan itu tak jarang mendorong korban ke pikiran-pikiran paling kelam. Bahkan, ada yang mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
"Beberapa korban itu bahkan ada indikasi bunuh diri. Beberapa kasus child grooming itu mereka menyiratkan untuk melakukan bunuh diri karena mereka tidak memiliki pendamping yang signifikan untuk memastikan bantuan secara psikologis terhadap child grooming,"
Paparnya itu sekaligus menjadi kritik halus. Ia menyarankan pemerintah agar serius menyediakan layanan trauma healing bagi mereka yang menjadi korban. Tanpa pendampingan yang tepat, penyembuhan mustahil terjadi.
Di sisi lain, data dari Komnas HAM mengungkap fenomena memilikan lain. Ternyata, banyak orang tua korban kejahatan seksual anak termasuk child grooming yang memilih untuk diam. Mereka enggan melapor.
"Orang tua yang anaknya menjadi korban child grooming kebanyakan memilih untuk tidak melapor," ungkap Elvina.
Alasannya beragam. Ada yang terbentur rasa malu, menganggapnya aib keluarga. Ada pula yang pesimis dengan proses hukum. Mereka merasa, melapor tidak serta-merta menjamin kasus anaknya akan tuntas di pengadilan. Sebuah keputusasaan yang justru membuat pelaku bisa terus bebas.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu