Pemerintah punya target ambisius: menurunkan tarif perdagangan dengan Inggris hingga nol persen. Target ini bakal dikejar lewat perundingan bilateral, dengan Kementerian Perdagangan memegang peran utama. Menariknya, mereka optimis prosesnya bisa berjalan cepat.
Menteri Perdagangan Budi Santoso, usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta, Selasa lalu, menyebut ada contoh yang bisa dijadikan acuan.
"Kami sampaikan kepada mereka bahwa Indonesia punya contoh (kerja sama) dengan EU EFTA. Artinya seharusnya tidak lama terealisasi kesepakatan. Targetnya setahun selesai," ujar Budi.
Jadi, apa dasarnya? Rupanya, ini berpijak pada surplus perdagangan yang selama ini terjalin antara kedua negara. Neraca yang positif itu memang patut disyukuri. Namun begitu, menurut Budi, hal ini justru harus dilihat sebagai peluang untuk mendiversifikasi pasar. Selama ini kita terlalu sering bergantung pada pasar tradisional di Asia.
"Kalau Indonesia itu banyak pilihan pasar, itu memudahkan buat pergerakan pasar kita," jelasnya.
Dia melanjutkan dengan nada lebih serius, "Kalau kita hanya fokus pada satu pasar dan nanti kalau ada masalah, itu akan mengganggu."
Di sisi lain, visi ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Kerja sama ekonomi yang sudah ada, UK-Indonesia Economic Growth Partnership (EGP), diharapkan bisa naik kelas. Target jangka panjangnya adalah membentuk perjanjian kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif atau CEPA.
Data dari Comtrade pada 2024 menunjukkan, ekspor Indonesia ke Inggris bernilai cukup signifikan: sekitar USD 1,81 miliar. Komoditas yang dikirim beragam, mulai dari alas kaki, besi dan baja, hingga berbagai alat elektronik. Angka ini yang kemungkinan jadi pertimbangan kuat untuk mempererat hubungan dagang.
Jadi, dalam setahun ke depan, perundingan ini akan jadi salah satu agenda panas. Apakah target tarif nol persen itu realistis? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
Tugu Insurance Cetak Laba Bersih Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026
Menkeu Purbaya Akan Berangkat Haji 21 Mei 2026, Sisipkan Doa Khusus agar Ekonomi Indonesia Makin Kuat
Pemerintah Siapkan Stimulus Baru, Insentif Mobil dan Motor Listrik Mulai Juni 2026
OJK: Piutang Multifinance Tumbuh Tipis, Pembiayaan Digital dan Pegadaian Melesat