Pemerintah punya target ambisius: menurunkan tarif perdagangan dengan Inggris hingga nol persen. Target ini bakal dikejar lewat perundingan bilateral, dengan Kementerian Perdagangan memegang peran utama. Menariknya, mereka optimis prosesnya bisa berjalan cepat.
Menteri Perdagangan Budi Santoso, usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta, Selasa lalu, menyebut ada contoh yang bisa dijadikan acuan.
"Kami sampaikan kepada mereka bahwa Indonesia punya contoh (kerja sama) dengan EU EFTA. Artinya seharusnya tidak lama terealisasi kesepakatan. Targetnya setahun selesai," ujar Budi.
Jadi, apa dasarnya? Rupanya, ini berpijak pada surplus perdagangan yang selama ini terjalin antara kedua negara. Neraca yang positif itu memang patut disyukuri. Namun begitu, menurut Budi, hal ini justru harus dilihat sebagai peluang untuk mendiversifikasi pasar. Selama ini kita terlalu sering bergantung pada pasar tradisional di Asia.
"Kalau Indonesia itu banyak pilihan pasar, itu memudahkan buat pergerakan pasar kita," jelasnya.
Artikel Terkait
BNPB Akui Anggaran Mitigasi Minim, Andalkan Pinjaman Luar Negeri
Beras Indonesia Siap Temani Jamaah Haji di Tanah Suci
BNPB Wanti-wanti: 2027 Jadi Tahun Kritis Siklus Karhutla
AHY Ungkap Makna Lebih Dalam di Balik Program Gentengisasi Prabowo