Isu Reshuffle Menghangat: Pratikno Diisukan Diganti, Apa Artinya?
Suasana di lingkar kekuasaan belakangan kembali tegang. Isu perombakan kabinet atau reshuffle bergulir kencang, dan satu nama yang paling sering disebut adalah Menteri Koordinator PMK, Pratikno. Istana memang masih tutup mulut, tapi bisik-bisik di koridor politik sudah tak terbendung. Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang dijalankan Presiden Prabowo Subianto dalam menata ulang timnya?
Menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, kabar pergantian Pratikno ini bukan perkara sederhana. Ini bukan cuma soal kinerja menteri, tapi lebih ke arah kalkulasi politik yang jauh lebih dalam. "Pratikno adalah loyalis sejati Jokowi," ujarnya.
"Isu penggantiannya menunjukkan bahwa Prabowo mulai secara perlahan menghabisi pengaruh Jokowi di lingkar kekuasaan," tambah Amir saat berbincang dengan wartawan, Rabu lalu.
Memang, hubungan Pratikno dengan Jokowi sangatlah erat. Dia pernah menjadi Menkretneg selama dua periode penuh, dan sering disebut sebagai tangan kanan sang mantan presiden. Kedekatan itu rupanya tak lantas putus setelah Jokowi lengser. Pratikno masih beberapa kali terlihat mengunjungi Jokowi di Solo. Bagi para pengamat, kunjungan-kunjungan semacam ini bukan sekadar silaturahmi biasa.
"Dalam politik tingkat tinggi, simbol itu penting," kata Amir. "Kunjungan-kunjungan tersebut dibaca sebagai bentuk loyalitas berkelanjutan."
Namun begitu, Amir meyakini Prabowo tidak akan bertindak frontal. Dia paham betul betapa kuatnya pengaruh Jokowi, yang masih membentang di birokrasi, partai, dan kalangan elite. "Prabowo itu pemain lama," jelasnya. "Dia tidak akan menyerang Jokowi secara terbuka. Strateginya lebih sunyi: menggeser, mengurangi, dan mengganti simpul-simpul pengaruh secara bertahap."
Dari kacamata intelijen, reshuffle kabinet adalah alat yang paling aman. Sah secara konstitusi, dan bisa dipakai untuk mengonsolidasi kekuasaan tanpa harus membuat kegaduhan politik yang tak perlu.
Isu ini juga tak bisa dipisahkan dari peta panjang menuju Pilpres 2029. Pernyataan politikus PSI Ahmad Ali baru-baru ini, yang menyebut Gibran berpotensi jadi pesaing Prabowo di 2029, seperti alarm yang berbunyi keras di internal kekuasaan. Di sisi lain, kader Gerindra sudah terang-terangan mendorong Prabowo untuk maju dua periode.
Dalam situasi seperti ini, Prabowo tentu butuh kabinet yang solid dan loyal sepenuhnya padanya. "Kalau Prabowo ingin dua periode, maka ia tidak bisa membiarkan terlalu banyak ‘remote control’ politik dari luar Istana," tegas Amir. "Loyalitas adalah kata kunci."
Jadi, meski tak konfrontatif, isu pencopotan Pratikno andaikata benar terjadi akan menjadi pesan politik yang sangat jelas. Pesannya bukan cuma untuk Jokowi, tapi untuk semua elite: bahwa Prabowo-lah yang sekarang memegang kendali penuh, baik secara de facto maupun de jure.
"Ini bukan soal Pratikno semata," pungkas Amir. "Ini tentang siapa yang memegang kendali penuh negara pasca-transisi kekuasaan."
Tapi tentu, langkah semacam ini punya risikonya sendiri. Basis dukungan Jokowi masih sangat besar. Salah langkah sedikit saja, konsolidasi kekuasaan bisa berbalik jadi gesekan elite yang mengganggu stabilitas.
Sampai detik ini, Istana masih belum angkat bicara. Banyak yang malah mengartikan keheningan ini sebagai tanda bahwa perubahan kabinet memang sedang dipersiapkan dengan sangat matang. Spekulasi terus berlanjut, menunggu kepastian dari pusat kekuasaan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu