Dia melanjutkan dengan nada lebih serius, "Kalau kita hanya fokus pada satu pasar dan nanti kalau ada masalah, itu akan mengganggu."
Di sisi lain, visi ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Kerja sama ekonomi yang sudah ada, UK-Indonesia Economic Growth Partnership (EGP), diharapkan bisa naik kelas. Target jangka panjangnya adalah membentuk perjanjian kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif atau CEPA.
Data dari Comtrade pada 2024 menunjukkan, ekspor Indonesia ke Inggris bernilai cukup signifikan: sekitar USD 1,81 miliar. Komoditas yang dikirim beragam, mulai dari alas kaki, besi dan baja, hingga berbagai alat elektronik. Angka ini yang kemungkinan jadi pertimbangan kuat untuk mempererat hubungan dagang.
Jadi, dalam setahun ke depan, perundingan ini akan jadi salah satu agenda panas. Apakah target tarif nol persen itu realistis? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
Indonesia Kembali Dipercaya FIFA Jadi Tuan Rumah FIFA Series 2026
Prabowo Tegaskan Penegakan Hukum dan Reformasi Aparat Jadi Prioritas
Monas Ramai Dikunjungi 13.500 Orang di Hari Kedua Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026, Tol Solo-Yogyakarta Catat Lonjakan Tertinggi 60%