Beras Indonesia Siap Temani Jamaah Haji di Tanah Suci

- Rabu, 04 Februari 2026 | 03:50 WIB
Beras Indonesia Siap Temani Jamaah Haji di Tanah Suci

Pemerintah punya rencana baru terkait haji tahun depan. Lewat Kementerian Haji dan Umrah, tepatnya Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), ada upaya serius untuk mengekspor beras lokal ke Arab Saudi. Tujuannya jelas: memastikan jamaah haji Indonesia tetap bisa makan nasi seperti biasa di tanah suci.

Rencana ini dibahas tuntas dalam rapat koordinasi antara Ditjen PE2HU dan Perum Bulog, Selasa lalu. Mereka duduk bersama, mencari solusi untuk satu masalah yang sebenarnya sudah lama mengganggu.

Menurut Jaenal Effendi, Dirjen PE2HU, ini soal kenyamanan dan kesehatan. "Jamaah kita tidak terbiasa dengan beras yang beredar di sana," ujarnya.

Ia melanjutkan, perbedaan jenis dan kualitas beras bisa bikin nafsu makan berkurang. Kalau sudah begitu, dampaknya pada kesehatan jamaah bisa cukup serius. Makanya, penyediaan beras 'rasa rumah' ini dianggap penting.

Nah, angkanya pun tidak main-main. Untuk musim haji 1447 H atau 2026 M nanti, diperkirakan ada 205.420 orang jamaah dan petugas. Bayangkan, kebutuhan berasnya mencapai sekitar 3.911 ton! Semua beras itu rencananya akan disalurkan ke 75 dapur katering yang tersebar di Makkah dan Madinah.

Tapi, jalan menuju sana ternyata tidak mulus. Ada satu tantangan besar yang menghadang: harga.

Jaenal dengan gamblang membeberkan perbandingannya. Beras premium asal Vietnam, katanya, dijual sekitar 482 dolar AS per metrik ton. Sementara, beras Indonesia dengan kualitas setara harganya melambung hingga 850 dolar AS. Itu pun belum termasuk biaya logistik yang tentu tidak murah.

"Harganya belum kompetitif," akunya. Karena itu, pemerintah diminta turun tangan. Pemberian dukungan dan fasilitas tertentu dinilai perlu agar harga beras kita bisa lebih terjangkau. Lagipula, konsumsi ini sifatnya khusus, hanya untuk jamaah haji.

Di sisi lain, peluang pasar sebenarnya terbuka. Sudah ada empat importir di Arab Saudi yang menyatakan minat. Mereka adalah SBTC, Mauladawilah, Tamayiz Asia, dan Muhammad Bawazier Trading. Syaratnya cuma satu: harga dan kualitas harus sesuai standar yang mereka tetapkan.

Menanggapi hal ini, Bulog menyatakan kesiapannya.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan komitmen lembaganya. "Kami memastikan seluruh ekspor beras mengikuti ketentuan perizinan yang berlaku," katanya.

Ia juga menekankan bahwa semua proses akan memenuhi sertifikasi halal dan standar ketat dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA). Mulai dari uji mutu hingga keamanan pangan, semuanya akan dipastikan berjalan sesuai aturan.

Kolaborasi lintas kementerian melibatkan Kementan, Bulog, hingga Kementdag ini memang punya dua tujuan sekaligus. Pertama, tentu saja untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan jamaah kita di tanah rantau. Tapi yang kedua, ini juga jadi momentum bagus untuk mendorong ekspor produk lokal. Sebuah langkah yang, jika berhasil, bisa memberi napas baru bagi perekonomian.

Jadi, selain soal ibadah, musim haji tahun depan juga akan menyisakan cerita tentang semangkuk nasi yang dibawa dari rumah. Semoga sampai dengan selamat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar