Surat Terakhir Bocah SD di Ngada: Uang untuk Buku yang Tak Pernah Terbeli

- Rabu, 04 Februari 2026 | 05:20 WIB
Surat Terakhir Bocah SD di Ngada: Uang untuk Buku yang Tak Pernah Terbeli

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Seorang anak kelas empat SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia dengan cara tragis. Ia ditemukan gantung diri di sebuah pohon cengkih. Kini, alasan di balik keputusannya yang memilukan itu mulai terkuak. Rupanya, ada kekecewaan mendalam yang ia pendam.

Menurut keterangan dari Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, malam sebelum kejadian, bocah berinisial YBR itu menginap di rumah ibunya. Ia punya satu permintaan: uang untuk membeli buku tulis dan pulpen. Sayangnya, sang ibu tak bisa memenuhinya.

Kondisi ekonomi keluarga itu memang sangat sulit.

“Hidupnya (ibu korban) susah,” ujar Dion, menggambarkan betapa berat beban yang ditanggung wanita itu. Ia harus menghidupi lima orang anak sendirian, setelah berpisah dari suaminya sekitar sepuluh tahun silam.

“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa.

Pada umumnya, YBR tinggal bersama neneknya di desa tetangga. Malam itu, ia sengaja datang untuk bertemu ibunya. Namun, harapannya pupus.

Di sisi lain, polisi mengonfirmasi temuan lain yang memperkuat narasi ini. Saat mengevakuasi jenazah YBR di Kecamatan Jerebuu pada Kamis (29/1) lalu, petugas menemukan sepucuk surat tulisan tangan.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut.

“Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” kata Benediktus via telepon, Selasa (3/2).

Surat itu, meski tak diungkapkan detail isinya, menjadi saksi bisu dari keputusasaan seorang anak yang masih sangat belia. Sebuah permintaan sederhana untuk alat tulis sekolah, berakhir dengan tragedi yang menyayat hati.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar