Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 00:06 WIB
Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi

Awal tahun 2026 ini, alam sepertinya sedang berteriak. Banjir bandang melanda Aceh dan Sumatera. Longsor menghantam Cisarua. Sementara itu, Bekasi dan Jakarta kembali terendam. Semua ini rasanya sudah jauh melampaui sekadar "takdir".

Ini adalah bukti nyata dari sebuah kegagalan sistemik. Ambisi ekonomi kita, sayangnya, tak pernah benar-benar berdamai dengan daya dukung alam. Di tengah situasi seperti ini, kita butuh perubahan arah kebijakan yang serius. Bukan cuma aturan baru atau proteksi ketat, tapi yang lebih mendasar: pendidikan. Hanya pendidikan yang bisa jadi jembatan untuk menyatukan dua dunia yang kerap bertolak belakang itu.

Paradoks Pertumbuhan: Ketika Kemajuan Justru Melukai

Sudah puluhan tahun, mantra pertumbuhan PDB menjadi penggerak utama kebijakan ekonomi, tak terkecuali di Indonesia. Tapi, apa arti angka-angka itu sebenarnya?

Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel, sudah sering mengingatkan. Menurutnya, PDB itu ukuran yang cacat. "Sebuah negara bisa tampak tumbuh pesat dengan menebang seluruh hutannya, tetapi itu bukan kemajuan, itu adalah likuidasi aset," begitu katanya suatu kali.

Peringatannya jelas. Pola kebijakan kita sering bersifat parasit. Devisa mengalir dari ekspor komoditas ekstraktif, tapi triliunan rupiah dari APBN harus dikeluarkan lagi untuk menanggulangi bencana yang ditimbulkan oleh eksploitasi itu sendiri. Sebuah lingkaran yang melelahkan.

Keseimbangan yang Terlupakan: Pandangan dari Kacamata Ilahiah

Sebenarnya, peringatan soal kerusakan lingkungan ini sudah sangat tua. Dalam Al-Quran, Surah Ar-Rum ayat 41, misalnya, disebutkan secara gamblang.

Ayat itu bukan cuma peringatan teologis. Itu adalah analisis sosiologis-ekologis yang tajam. Kerusakan atau fasad yang terjadi adalah umpan balik langsung dari tindakan manusia.

Dalam ekologi Islam, manusia punya peran sebagai Khalifah fil Ardh, pemimpin di bumi. Tugasnya menjaga, bukan mengeksploitasi habis-habisan. Bencana hari ini, pada dasarnya, adalah bentuk pengingkaran terhadap Al-Mizan, keseimbangan yang telah Tuhan tetapkan.

Ketika kebijakan ekonomi melampaui Qadar atau daya dukung alam, ya, 'timbangan' itu pasti miring. Dan kita semua yang merasakan jatuhnya.

Lantas, Di Mana Peran Pendidikan?

Mengapa begitu sulit menyatukan ekonomi dan ekologi? Jawabannya, mungkin, terletak pada jurang dalam sistem pendidikan kita.

Selama ini, ilmu ekonomi diajarkan terpisah dari ilmu alam. Mahasiswa ekonomi fokus pada memaksimalkan laba, sementara mahasiswa kehutanan diajari menjaga pohon. Mereka jarang sekali duduk dalam satu ruang diskusi yang sama.

David Orr, pakar pendidikan ekologi, punya pandangan menarik. Ia bilang krisis lingkungan sejatinya adalah krisis pikiran.

"Pendidikan yang tidak mengarah pada pemahaman tentang cara kerja bumi adalah pendidikan yang berbahaya," tegas Orr.


Halaman:

Komentar