Hidup jaman sekarang serba cepat. Tekanan datang dari mana-mana, bukan cuma dari pekerjaan, tapi juga dari tuntutan untuk terus berfungsi tanpa henti. Makanya, gak heran kalau banyak yang cari cara simpel buat jaga keseimbangan antara badan dan pikiran. Nah, buat sebagian orang, jawabannya ternyata sederhana: lari.
Tapi lari di sini bukan cuma soal olahraga atau bakar kalori. Bagi mereka, aktivitas ini lebih mirip ruang jeda. Sebuah tempat untuk menata ulang napas, langkah, dan jujur saja kewarasan.
Memang, lari dikenal bisa bikin tubuh lebih sehat. Namun begitu, ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian. Di balik gerakan repetitif dan ritme langkah yang konstan, lari bisa jadi mekanisme bertahan yang sunyi. Ia gak selalu soal mengejar waktu tercepat atau jarak terjauh. Kadang, lari cuma jadi cara paling dasar untuk tetap bergerak saat segalanya terasa berat.
Dalam praktiknya, lari itu menawarkan struktur yang jujur banget. Ada jarak yang ditempuh, ada napas yang mesti diatur, ada batas tubuh yang harus dihormati. Di situlah kita belajar mendengarkan diri sendiri. Kapan harus melambat, kapan perlu berhenti sejenak, atau kapan cukup bertahan dengan langkah sekarang tanpa memaksakan diri. Proses ini, sadar atau tidak, sering berjalan paralel dengan cara kita menghadapi tekanan hidup: nggak selalu cepat, nggak selalu lurus, yang penting tetap bergerak.
Artikel Terkait
Suara Kritis di Tubuh NU: Tolak Board of Peace dan Desak PBNU Kembali ke Khittah
Sepucuk Surat Perpisahan untuk Mama Reti: Bocah 10 Tahun Gugur Demi Buku
Prabowo Siap Mundur dari Board of Peace Jika Tak Bela Palestina
MUI Tegaskan Syarat: Tak Ada Ruang bagi Israel di Board of Peace Tanpa Pengakuan Kedaulatan Palestina