Berbeda sama ruang lain yang penuh tuntutan dan penilaian, lari memberi kita ruang yang relatif netral. Di sana, nggak ada target yang wajib dicapai setiap hari. Nggak ada peran yang harus dipertahankan. Cuma ada tubuh, langkah, dan waktu. Dan dalam kesederhanaan itulah, banyak orang nemu ketenangan yang sulit didapat di tempat lain.
Namun begitu, hubungan seseorang dengan lari itu dinamis, bisa berubah. Ada masa di mana aktivitas ini terasa sangat bermakna, lalu perlahan bergeser seiring prioritas hidup yang berubah. Mengurangi frekuensi lari atau bahkan berhenti sementara, bukan otomatis tanda menyerah. Justru, itu bisa jadi bentuk kedewasaan: menyadari bahwa bertahan itu nggak selalu berarti terus berlari kencang. Bisa juga berarti tahu kapan waktunya istirahat dan fokus ke hal lain.
Jadi, pada intinya, lari nggak perlu diposisikan sebagai solusi tunggal. Ia cuma salah satu cara bukan satu-satunya untuk menjaga keseimbangan. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa setiap orang berhak menemukan caranya sendiri untuk bertahan. Asal dilakukan dengan jujur, aman, dan dengan respek penuh pada diri sendiri.
Kadang, sikap bertahan itu nggak terlihat heroik. Ia muncul dalam langkah-langkah kecil yang diulang setiap hari. Dalam keputusan untuk tetap bergerak, meski pelan. Dan juga, dalam keberanian untuk berhenti saat badan dan pikiran benar-benar butuh istirahat. Di sanalah, mungkin, makna bertahan yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Pemulihan Sumatera Terkatung: Saat Birokrasi Mengalahkan Kepedihan
Dari Penolakan ke Dukungan Bersyarat: MUI dan Polemik Diplomasi Indonesia di Forum Perdamaian Trump
Analis Data ITB Siap Bawa Pendekatan Ilmiah ke Timnas Indonesia
Farhat Abbas Buka Suara: Ada Rekaman Eggi Sudjana Ingin Damai Soal Kasus Ijazah Jokowi