Anak Bohong Usia di Medsos, Kominfo Soroti Bahaya Konten Dewasa

- Rabu, 04 Februari 2026 | 07:50 WIB
Anak Bohong Usia di Medsos, Kominfo Soroti Bahaya Konten Dewasa

JAKARTA – Ada fakta yang cukup mencengangkan tentang bagaimana anak-anak kita berperilaku di dunia maya. Ternyata, masih banyak dari mereka yang dengan sengaja memalsukan usia saat membuat akun media sosial. Tujuannya jelas: agar bisa mengakses platform yang sebenarnya membatasi pengguna berdasarkan umur. Hal ini diakui sendiri oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, angkat bicara. Menurutnya, praktik semacam ini membuka pintu lebar-lebar bagi anak untuk terpapar konten dewasa. Bahkan, konten seksual pun bisa muncul tanpa ada filter yang memadai.

“Begitu anak mengaku berusia 18 tahun, sistem langsung memperlakukan mereka sebagai pengguna dewasa. Akibatnya, konten-konten berisiko muncul bebas di lini masa mereka,”

ujar Nezar dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Nezar menegaskan, celah inilah yang menjadi salah satu biang kerok mengapa konten tidak ramah anak begitu mudah dijangkau. Algoritma platform, katanya, berjalan otomatis. Mesin itu tak bisa membedakan apakah usia yang terdaftar sesuai dengan perilaku nyata pengguna di dunia digital.

Lalu, apa solusinya? Komdigi mendorong para penyelenggara platform untuk mulai mempertimbangkan teknologi pendeteksian usia berbasis perilaku. Teknologi ini, sering disebut age inferential, punya cara kerja yang lebih cerdas. Sistem tidak hanya mengandalkan tanggal lahir di profil, tetapi membaca pola konsumsi konten si pengguna.

“Kalau pola perilakunya menunjukkan anak-anak, meskipun akunnya terdaftar sebagai dewasa, sistem bisa langsung membatasi akses ke konten berbahaya,”


Halaman:

Komentar