Sepucuk Surat untuk Mama: Bocah 10 Tahun di Ngada Gantung Diri Diduga karena Tak Dibeli Buku

- Rabu, 04 Februari 2026 | 09:20 WIB
Sepucuk Surat untuk Mama: Bocah 10 Tahun di Ngada Gantung Diri Diduga karena Tak Dibeli Buku

Sebelum membaca lebih jauh, perlu diingat bahwa cerita ini bukan untuk ditiru. Kalau kamu atau orang terdekat merasa tertekan dan ada pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan, segera cari bantuan. Bicaralah dengan psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.

Sebuah kabar pilu datang dari Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang anak kelas IV SD, baru sepuluh tahun umurnya, ditemukan meninggal karena gantung diri. Peristiwa di Kecamatan Jerebuu ini langsung menyentak banyak pihak, termasuk Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Bagi Hetifah, ini lebih dari sekadar berita duka; ini adalah alarm keras sebuah tanda bahaya yang harus didengar oleh negara dan masyarakat luas.

"Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat," ujar Hetifah kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).

“Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun,” tambahnya.

Politisi Golkar itu lantas menegaskan, anak seusia itu seharusnya mendapat perlindungan dan bantuan. Jangan sampai mereka merasa putus asa, apalagi hanya karena urusan fasilitas belajar yang sepele. Menurutnya, kasus ini jadi bukti nyata bahwa banyak hal perlu dikoreksi, mulai dari sistem pendidikan hingga jaring pengaman sosial di Indonesia.

"Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena," tegas Hetifah.

"Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar."

Ia mendesak agar pendidikan dasar benar-benar gratis dan bisa diakses semua anak, tanpa terkecuali. Bukan cuma itu, perlindungan sosial juga harus tepat sasaran, terutama untuk keluarga-keluarga yang rentan dan serba kekurangan.

"Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin," paparnya.

"Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar."

Hetifah juga menekankan pentingnya membangun kepedulian di lingkungan sekolah dan masyarakat. Tujuannya jelas: agar anak yang sedang kesulitan tidak merasa sendirian, dan segera mendapat pertolongan.

"Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan," imbuhnya.

Di balik tragedi ini, ada secarik surat yang bikin hati miris. Saat mengevakuasi jenazah YBR (10), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangannya. Surat itu ditujukan untuk sang ibu, ditulis dengan bahasa daerah Bajawa.

Isinya singkat, tapi menusuk. Ada baris yang menyebut sang ibu "pelit sekali". Selebihnya, adalah ucapan perpisahan dan permintaan agar ibunya tidak menangis jika ia telah pergi.

Berikut isi suratnya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat itu. Namun, apa yang sebenarnya terjadi? Apa pemicu kekecewaan mendalam si anak pada ibunya? Itu masih jadi tanda tanya besar.

Beredar kabar bahwa korban kecewa lantaran tak dibelikan buku tulis. Tapi Benediktus belum bisa memastikan kebenaran informasi itu. “Masih pendalaman,” katanya singkat. Investigasi masih terus berjalan, mencoba menyusun puzzle duka dari sebuah kehidupan yang terenggut terlalu cepat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar