Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair

- Rabu, 04 Februari 2026 | 10:48 WIB
Koktail Berasap Berujung Tragis, Lambung Pria Ini Pecah Usai Teguk Nitrogen Cair

Di sebuah bar di Meksiko, seorang pria berusia 34 tahun baru saja meneguk koktailnya. Hanya hitungan detik kemudian, ia merasakan nyeri hebat yang menusuk perutnya. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba dan intens, memaksanya untuk segera dilarikan ke unit gawat darurat.

Kondisinya memburuk dengan cepat. Saat tiba di rumah sakit, pria itu sudah berkeringat deras dan tubuhnya terasa sangat lemas. Ia mengeluh nyeri perut yang luar biasa. Tanda-tanda vitalnya pun menunjukkan hal yang mengkhawatirkan.

Detak jantungnya melonjak hingga 124 kali per menit jauh di atas kisaran normal 60-100. Napasnya tersengal-sengal, tekanan darahnya anjlok, dan suhu tubuhnya turun drastis ke 35,4 derajat Celsius. Situasinya benar-benar genting.

Ketika dokter mulai memeriksa, pasien mengaku rasa sakitnya menyebar ke empat titik berbeda di perutnya. Temuan ini cukup tidak biasa. Nyeri yang menyebar luas seperti itu berbeda dengan kasus usus buntu yang biasanya terpusat di satu area.

Di sinilah cerita mulai jelas. Pria itu akhirnya memberi tahu tim medis tentang minumannya. Koktail yang ia pesan ternyata dicampur dengan nitrogen cair.

"Dokter menduga zat itulah biang keroknya, yang menyebabkan lambungnya pecah," tulis laporan medis mengenai kasus ini.

Memang, nitrogen cair punya sifat berbahaya. Saat berubah dari cair menjadi gas, volumenya bisa mengembang hingga 700 kali lipat. Bayangkan saja, zat bersuhu minus 196 derajat Celsius itu tiba-tiba memuas di dalam perut yang hangat. Hasilnya bisa ditebak: lambung itu meletup seperti balon yang dipompa berlebihan.

Untuk memastikan kecurigaan mereka, dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan mengetuk perut pasien. Biasanya, lambung yang berisi udara akan menghasilkan suara bernada tinggi. Sementara organ padat seperti hati akan berbunyi tumpul. Yang mengejutkan, hampir seluruh area perut pria itu menghasilkan suara timpani termasuk bagian yang seharusnya tidak. Itu adalah tanda kuat adanya udara bebas yang bocor ke rongga perut.

Pemeriksaan CT scan kemudian membenarkan hal terburuk. Tampak lapisan gas nitrogen terperangkap di rongga perut, tepat di atas lambung dan di bawah paru-paru. Kondisi ini disebut pneumoperitoneum, bukti nyata bahwa lambungnya telah berlubang.

Penanganan darurat pun dilakukan. Dokter membuat sayatan kecil untuk melepaskan gas yang terperangkap. Lalu, dengan bantuan laparoskop, mereka menemukan lubang selebar 3 sentimeter di lambung. Lubang itu dijahit dan ditambal dengan jaringan lemak dari tubuh pasien sendiri.

Untungnya, pemulihannya berjalan lancar. Hanya dalam tiga hari, pria itu sudah bisa pulang dan mulai mengonsumsi makanan cair tanpa masalah.

Kasus ini sebenarnya memberi pelajaran penting. Nitrogen cair bukan cuma berisiko membuat lambung pecah, tapi juga bisa menyebabkan luka bakar dingin permanen jika tertelan sebelum menguap sempurna. Zat ini mampu membekukan air dalam sel dan merusak jaringan tubuh secara serius.

Namun begitu, pasien ini terhindar dari luka bakar semacam itu. Menurut dokter, fenomena fisika yang disebut Leidenfrost effect mungkin menjadi penyelamatnya. Saat nitrogen cair menyentuh jaringan tubuh yang jauh lebih panas, lapisan terluarnya langsung menguap dan membentuk selubung gas pelindung. Selubung inilah yang diduga mencegah kontak langsung dan kerusakan lebih parah pada kerongkongan dan lambungnya.

Di dunia kuliner, nitrogen cair sebenarnya bukan barang baru. Zat ini sering dipakai untuk membekukan makanan cepat saji atau menjaga kesegaran seafood. Tapi dalam praktik yang aman, nitrogen cair harus menguap seluruhnya sebelum makanan disajikan ke konsumen.

Masalahnya, tren menghidangkan minuman atau makanan dengan efek asap yang dramatis justru mengundang bahaya. Kadang, zat itu dicampur langsung dan dikonsumsi sebelum hilang. Praktik yang lebih aman sebenarnya hanya menggunakan nitrogen cair untuk menciptakan ilusi asap di "sekitar" hidangan, bukan di "dalamnya". Bagaimanapun, keamanan konsumen harus selalu diutamakan daripada sekadar efek visual yang memukau.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar