Kuba Pamer Kekuatan Militer, Jawab Ancaman Trump dengan Parade Tank

- Minggu, 25 Januari 2026 | 21:25 WIB
Kuba Pamer Kekuatan Militer, Jawab Ancaman Trump dengan Parade Tank

Latihan Militer Kuba: Persiapan Hadapi Ancaman AS

Havana tampaknya tak mau main-main. Di bawah pengawasan langsung Presiden Miguel Diaz-Canel, angkatan bersenjata Kuba baru saja menggelar latihan militer yang melibatkan unit-unit tank. Latihan ini bukan sekadar rutinitas. Menurut sejumlah analis, ini adalah sinyal keras bahwa negara pulau itu tak berniat untuk bernasib seperti Venezuela, sekutu utamanya yang baru saja diguncang intervensi AS.

Diaz-Canel sendiri hadir di lapangan, didampingi Menteri Angkatan Bersenjata Jenderal Alvaro Lopez Miera dan sejumlah perwira tinggi. Suasana tegang terasa. Dalam siaran televisi pemerintah, presiden itu bersuara lantang.

“Cara terbaik mencegah agresi adalah memaksa imperialisme menghitung harga yang harus dibayar untuk menyerang kita. Semua ini berkaitan erat dengan persiapan kita… dan menjadi sangat penting dalam keadaan sekarang,” ujarnya.

Pernyataannya jelas merupakan jawaban atas ancaman dari Washington. Beberapa waktu lalu, Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan Kuba agar “membuat kesepakatan” atau menghadapi konsekuensi serupa dengan Venezuela. Trump bahkan menyebut aliran minyak dan uang dari Caracas ke Havana akan diputus total.

“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MASUK KE KUBA - NOL!” tulis Trump di Truth Social. “Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT.”

Namun begitu, Havana justru menunjukkan taring. Dewan Pertahanan Nasional mereka baru saja mengadakan pertemuan khusus. Tujuannya, meningkatkan kesiapan dan kohesi kepemimpinan negara. Yang lebih mencolok, dewan itu dikabarkan telah menganalisis dan menyetujui rencana transisi menuju “Keadaan Perang”. Rinciannya memang tidak diungkap, tapi istilah itu sendiri sudah cukup membuat bergidik.

Latihan ini adalah bagian dari doktrin “Perang Seluruh Rakyat”. Intinya, mempersiapkan mobilisasi massal warga sipil jika konflik bersenjata benar-benar pecah. Sebuah langkah defensif yang terlihat matang, sekaligus putus asa.

Di sisi lain, ketergantungan ekonomi Kuba pada Venezuela memang bukan rahasia. Sejak embargo AS berlangsung, minyak murah dari Caracas jadi penopang vital. Itu adalah warisan kesepakatan era Hugo Chavez. Sekarang, dengan Maduro ditangkap dan puluhan pasukan keamanan termasuk dari Kuba tewas dalam serangan 3 Januari lalu, keran itu terancam ditutup paksa oleh Washington.

Diaz-Canel membalas ancaman Trump dengan nada keras di media sosial.

“Kuba adalah negara bebas, merdeka, dan berdaulat. Tak seorang pun bisa mendikte kami,” tulisnya. “Kami siap membela tanah air hingga tetes darah terakhir.”

Rentetan peristiwa ini memanas setelah Trump juga membagikan postingan yang menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bisa jadi presiden untuk Kuba. “Kedengarannya bagus!” komentar Trump ringkas. Ia kemudian menegaskan lagi bahwa layanan keamanan yang diberikan Kuba untuk Venezuela sudah berakhir, menyusul tewasnya banyak personel Kuba dalam serangan di Caracas.

Situasinya runyam. Havana seperti terjepit. Di satu sisi, sumber daya vitalnya terancam putus. Di sisi lain, ancaman militer terbuka dari negara adidaya di seberang laut. Latihan militer barusan mungkin hanya puncak gunung es dari persiapan yang lebih besar. Mereka jelas tak mau jadi Venezuela berikutnya. Tapi apakah cukup dengan parade tank dan pidato berapi-api? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar