Harapan itu kembali muncul, meski samar. Di tengah hutan lebat Gunung Bulusaraung, tim SAR berhasil menemukan sebuah handphone milik Farhan Gunawan, sang copilot pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak Sabtu lalu. Temuan ini, di kawasan hutan Pangkep, langsung disambut oleh keluarga dengan perasaan campur aduk antara cemas dan optimisme yang tiba-tiba menyala.
Yang bikin harapan mereka makin kuat adalah data dari smartwatch Farhan yang masih terhubung dengan ponselnya. Data itu menunjukkan aktivitas fisik yang signifikan pasca pesawat dinyatakan hilang. Di media sosial, data itu ramai dibicarakan: tercatat 9.000 langkah sekitar pukul enam pagi, dan angkanya terus merangkak naik hingga menyentuh 13.647 langkah menjelang malam hari, Minggu kemarin.
Putri Kandades Hasibuan, salah satu keluarga korban, mencoba menjelaskan temuan yang kini jadi perbincangan itu.
"HP-nya dapat di hutan, sekarang sudah dipegang adik saya. Nah, HP dia itu terhubung sama smartwatch-nya. Terus dicek, ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan dari pagi sampai jam enam, terus malam juga ada. Intinya, pergerakan kaki langkah itu semakin lama semakin bertambah,"
Ungkapnya. Data ribuan langkah itu secara tak langsung memunculkan dugaan adanya pergerakan fisik dari pagi hingga larut malam. Sebuah sinyal yang, dalam situasi seperti ini, terasa seperti secercah cahaya.
Buat keluarga yang sudah menanti dalam ketidakpastian, informasi ini jelas jadi angin segar. Mereka menganggapnya sebagai harapan baru, sekaligus mendesak agar proses pencarian dan evakuasi dilakukan dengan maksimal dan penuh kehati-hatian. Setiap langkah tim SAR sekarang terasa lebih genting.
Namun begitu, tantangan di lapangan sama sekali tidak main-main. Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, mengakui bahwa cuaca di sekitar Gunung Bulusaraung masih sangat tidak bersahabat. Hujan dan angin kencang kerap datang tiba-tiba, menyulitkan pergerakan tim gabungan.
Meski alam tak mendukung, upaya pencarian tak boleh kendor. Pencarian kini difokuskan di empat sektor berbeda, membentang dari puncak gunung hingga lereng yang mengarah ke Kabupaten Maros.
"Kita berupaya dengan situasi yang ada, kita ingin menemukan korban dalam kondisi hidup. Tantangan yang kita hadapi saat ini, alam dan cuaca,"
kata Syafii, menegaskan komitmen tim di tengah segala kesulitan.
Narasi ini masih berlanjut. Di satu sisi, ada data teknologi yang memberi isyarat optimistis. Di sisi lain, ada medan berat dan cuaca buruk yang terus menguji. Semua mata kini tertuju pada gunung itu, menunggu akhir dari pencarian yang penuh harap.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Kecam Pembiarkan Thalia Live Baca Komentar, Khawatirkan Lingkungan Tumbuh Anak
Komisi IV DPR Apresiasi Kinerja Mentan Amran Stabilkan Harga Sawit, Telur, dan Ayam
Mahfud MD Desak Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis Dirombak Total Usai Tiga Petinggi BGN Ditangkap
PSM Makassar Tunjuk Kembali Darije Kalezic sebagai Pelatih Kepala untuk Musim 2026/2027