Kisah Abah Aloh dan Puluhan Korban Lain yang Masih Menanti Bantuan di Sukabumi

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:00 WIB
Kisah Abah Aloh dan Puluhan Korban Lain yang Masih Menanti Bantuan di Sukabumi

Di sebuah gubuk di tengah hutan Sukabumi, seorang kakek berusia 70 tahun bernama Abah Aloh menjalani hari-harinya sendirian. Kehidupannya berubah total setelah bencana longsor melanda Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, sembilan bulan silam. Rumahnya hancur, dan yang lebih memilukan, sang istri turut menjadi korban, meninggal tertimbun material longsoran.

Yang membuat hati miris, hingga kini, di tengah reruntuhan kenangan itu, Abah Aloh belum merasakan sentuhan bantuan pemerintah sama sekali. Ia bertahan sebatang kara, dalam kesunyian yang menyayat.

Namun, kisah pilu Abah Aloh ternyata bukanlah satu-satunya. Menurut informasi yang beredar, masih ada sekitar 70 hingga 80 kepala keluarga korban bencana di wilayah itu yang nasibnya serupa. Mereka seperti terlupakan, menunggu janji yang tak kunjung nyata.

Berita tentang Abah Aloh akhirnya sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, ia langsung merespons.

"Kami sampaikan bahwa nama kakek tersebut (Abah Uloh) sudah masuk dalam data 500 calon penerima bantuan dari Pemprov Jabar bencana bulan Desember 2024,"

Begitu pernyataan sang gubernur. Ia juga sedikit berseloroh, menyebut data penerima bantuan itu memang baru selesai diverifikasi. Lantas, apa penyebab keterlambatannya?

Dedi Mulyadi mengakuinya. Diduga, ada masalah koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Sukabumi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam proses pengajuan bantuan. Sebagai pemimpin, ia tak sungkan untuk meminta maaf.

"Untuk itu saya mohon maaf atas keterlambatannya,"

imbuhnya.

Persoalan bantuan di Sukabumi rupanya tak cuma soal longsor. Di sisi lain, janji lain juga masih menggantung. Puluhan warga korban banjir bandang di kampung yang sama masih menagih janji bantuan senilai Rp 10 juta per KK yang dijanjikan Dedi Mulyadi setahun yang lalu. Mereka kecewa karena penyalurannya dinilai tidak merata.

Bencana banjir bandang dan longsor di Cidadap waktu itu memang dahsyat. Hampir seratus kepala keluarga terdampak, dengan lima kampung di Dusun Kawungluwuk luluh lantak. Janji bantuan bagi mereka, seperti halnya bagi Abah Aloh, adalah harapan untuk bisa kembali bangkit.

Kini, semua mata tertuju pada realisasi janji itu. Masyarakat menunggu, berharap kata-kata akan segera berubah menjadi tindakan nyata yang menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar