Di hutan hujan timur Madagaskar, ada suara yang bisa membuat siapapun terdiam. Panjang, berlapis, dan punya irama yang dalam. Mirip nyanyian yang datang dari masa lalu. Itulah suara indri, lemur terbesar yang masih hidup. Bagi masyarakat setempat, ia lebih dari sekadar hewan. Mereka memanggilnya babakoto, dan mempercayainya sebagai leluhur manusia. Kepercayaan ini menempatkan indri di persimpangan yang unik: antara sains, mitologi, dan sebuah krisis konservasi yang nyata.
Secara ilmiah, ia dikenal sebagai Indri indri. Ukurannya memang luar biasa untuk seekor lemur. Bayangkan, tinggi tubuhnya saat berdiri bisa nyaris 120 sentimeter, dengan berat mencapai 9,5 kilogram. Tak heran ia dinobatkan sebagai lemur terbesar di dunia. Ciri fisiknya juga gampang dikenali. Bulunya tebal dengan pola hitam-putih kontras, wajahnya datar, dan yang paling khas: ekornya pendek sekali. Berbeda dengan kerabat lemurnya yang berekor panjang, siluet indri yang tegak di dahan pohon terlihat sangat khas.
Habitatnya adalah hutan hujan yang lembap dan rapat di dataran rendah hingga perbukitan. Di sanalah mereka hidup, hampir tak pernah turun ke tanah. Kaki belakang mereka sangat kuat, dirancang untuk melompat. Para peneliti mencatat, lompatan vertikal indri antar pohon bisa mencapai sepuluh meter! Jempol kakinya yang berlawanan arah memberi cengkeraman kuat. Seringkali mereka terlihat duduk tegak, seperti sedang merenung, mengawasi kanopi hutan dari ketinggian.
Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil yang monogami, biasanya tiga sampai lima individu. Betina dominan yang memimpin. Wilayah jelajahnya tak terlalu luas, hanya sekitar 300 hingga 700 meter per hari. Pola ini masuk akal untuk menghemat energi di hutan yang sumber makanannya seperti daun muda, buah, dan bunga tersebar di mana-mana.
Namun begitu, reproduksi mereka sangat lambat. Seekor betina biasanya hanya melahirkan satu anak setiap dua atau tiga tahun sekali. Bayi itu akan digendong di dada induknya, lalu pindah ke punggung, dan baru mandiri setelah delapan bulan. Ikatan antara induk dan anak sangat kuat, dan proses pengasuhan bisa berlangsung hingga dua tahun. Ini adalah proses yang panjang dan rentan.
Tapi keunikan sejati indri terletak pada suaranya. Nyanyian mereka bisa terdengar hingga empat kilometer jauhnya di tengah belantara. Mereka bernyanyi berkelompok, seperti duet atau koor keluarga. Suara itu digunakan untuk menandai wilayah dan menjaga ikatan.
Yang mengejutkan, penelitian tahun 2019 oleh Andrea Ravignani dkk. di Current Biology mengungkap sesuatu yang luar biasa.
"Kami menemukan bahwa indri menggunakan ritme kategoris, pola seperti 1:1 dan 1:2, yang juga umum dalam musik manusia," jelas Ravignani.
Temuan ini sungguh mencengangkan. Manusia dan indri terpisah oleh evolusi sekitar 77 juta tahun. Namun, tampaknya ada mekanisme kognitif serupa yang mengatur irama. Dalam wawancara dengan The New York Times, Ravignani menyebut kemampuan ini mirip metronom internal.
"Otak mereka mampu memprediksi interval suara berikutnya. Hingga saat ini, hanya manusia dan indri yang diketahui mamalia memiliki sistem ritme seperti ini," tambahnya.
Fakta sains ini seperti menggemakan kepercayaan lokal. Mitologi Malagasi memang memuliakan indri. Nama 'babakoto' bisa berarti kakek, ayah kecil, atau leluhur. Banyak legenda menyatakan manusia dan indri berasal dari satu keluarga; bahwa indri adalah manusia yang memilih tinggal di hutan. Kepercayaan ini melahirkan fady atau tabu untuk membunuh mereka, sebuah perlindungan kultural yang tak ternilai.
Di sisi lain, realitasnya kini pahit. Status konservasi indri berada di titik Kritis menurut IUCN. Populasinya mungkin hanya tersisa antara 1.000 hingga 10.000 ekor. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Hutan tempat mereka bernyanyi terus menyusut oleh penebangan, pertanian, dan pembangunan jalan.
Jadi, di tengah hutan Madagaskar yang semakin senyap, nyanyian indri bukan sekadar komunikasi. Ia adalah gema dari masa lalu evolusi kita, sebuah warisan budaya yang hidup, dan sekaligus sirene peringatan. Suara itu panjang, berlapis, dan berirama. Tapi bisakah kita masih mendengarnya di masa depan?
Artikel Terkait
Google Sediakan Fitur Bawaan Lacak, Kunci, hingga Hapus Data Ponsel Android yang Hilang
WhatsApp Bisa Diakses Tanpa Scan Kode QR, Pakar Ingatkan Risiko Penyadapan dan Pelanggaran Privasi
YouTube Batasi Akses Pengguna di Bawah 16 Tahun di Indonesia Patuhi PP Tunas
Peneliti Temukan Spesies Baru Laba-laba Hantu di Habitat Bambu Jawa