Di hadapan forum Majelis Persaudaraan Manusia Zayed Award 2026, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan khusus untuk kaum perempuan. Mantan Presiden Indonesia itu mengingatkan agar perempuan tak lagi terbelenggu oleh pilihan yang sebenarnya ilusi: mengurusi rumah tangga atau terjun ke masyarakat. Menurutnya, itu adalah dilema palsu.
"Saya ingin mengingatkan kembali agar perempuan tidak terjebak dalam dilema palsu antara rumah dan masyarakat," ujarnya di Museum Nasional Zayed, Selasa lalu.
Lalu, apa solusinya?
Megawati menekankan, yang diperlukan sebenarnya adalah manajemen waktu yang baik, komunikasi yang setara dengan pasangan, dan ini yang krusial dukungan nyata dari negara serta lingkungan sosial. Tanpa sokongan struktural itu, akan selalu terasa berat.
Ia kemudian bercerita tentang perjalanan panjangnya sendiri. Kisah itu berawal dari didikan orang tuanya. Megawati mengaku dibentuk oleh nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah, seorang presiden, dan ibunya yang berasal dari etnis berbeda.
"Yang membuat saya menjadi manusia seperti sekarang ini, itu adalah karena keyakinan, keteguhan, keuletan, keberanian, dan kesabaran," tutur Ketua Umum PDIP itu. Semua itu, lanjutnya, harus dipadu dengan etika moral dan hati nurani.
Di sisi lain, Megawati juga bersyukur bisa tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu bagi ketiga anaknya. Pengalamannya di ranah publik memang panjang; mulai dari Ketua Umum PDIP sejak 1993, anggota DPR, lalu Wakil Presiden, hingga puncaknya menjadi Presiden.
Tak lupa ia menyebut almarhum suaminya, yang pernah menjabat Ketua MPR RI. Baginya, kepemimpinan entah di rumah atau di masyarakat tak pernah tumbuh dalam kesendirian.
"Di dalam keluarga saya, baik rumah ataupun masyarakat, itu semua perlu kepemimpinan," imbuhnya.
Nah, poin utamanya begini: bagi Megawati, esensi kepemimpinan perempuan justru terletak pada kemampuan menyatukan berbagai peran, bukannya mempertentangkannya. Lebih dari sekadar jabatan, kepemimpinan perempuan adalah soal menghadirkan empati dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.
"Ketika perempuan menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan dalam seluruh ruang hidupnya, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan," paparnya.
Ia menutup dengan menyebut itu semua adalah kontribusi untuk mewujudkan "Human Fraternity" sebuah cita-cita yang relevan bagi masa depan peradaban global.
Artikel Terkait
Penertiban Pedagang Tanaman Hias di Danau Bisma Jakarta Utara, Pemerintah Fasilitasi Relokasi ke Kemayoran
Prabowo Dijadwalkan Hadiri KTT ke-48 ASEAN di Filipina pada 7-8 Mei
Persib Kunci Kemenangan Tipis atas PSIM Jelang Laga Panas Lawan Persija
Pemkot Jakbar Bangun Saluran 1.050 Meter ke Kali Angke untuk Atasi Banjir Kolong JORR Puri