Melihat anak-anak dari SMPLB atau SMALB dengan ketunaan Bahasa sedang berkomunikasi, bagi saya selalu menjadi sebuah kehormatan. Ada sesuatu yang menarik di sana. Mereka terlibat dalam suatu dialog, tangan bergerak lincah, diiringi mimik wajah yang hidup. Ekspresi itu seolah langsung menerjemahkan pikiran dan perasaan. Kadang terdengar suara "aaa... aaa...". Kadang sama sekali sunyi, hanya gerakan tangan yang fasih "berbicara".
Di sisi lain, saya teringat pada sebuah unggahan FaceBook Yulia Dewi, seorang wanita muda Tuli asal Bali yang sudah berkeluarga. Dalam video itu, selain gerakan tangan yang cepat, ada juga suara yang menyertainya. Sebagian besar kata-katanya relatif jelas. Namun begitu, ada pula bunyi-bunyi kecil yang sulit dikenali sebagai kata. Bagi saya, suara yang keluar dari Yulia yang Tuli sejak lahir itu mirip seperti teks verbatim yang mentranskripsi ucapannya.
Lalu ada seorang siswa lain. Saya sering berpapasan dengannya di halte atau di dalam BRT Trans Semarang Koridor V. Dari seragamnya, dia anak SMPLB ketunaan B. Berkali-kali saya menyaksikan, saat panggilan video di handphone-nya berdering, tangannya langsung "berkicau" dengan bahasa isyarat. Tak ada suara seperti Yulia. Dia lebih banyak diam, tapi ekspresi wajahnya begitu hidup. Sorot matanya cerdas, seolah setiap gerakan tangannya punya nyawa sendiri.
Anak itu asyik sekali. Tangannya terus bergerak menghadap layar, dalam rengkuh kediaman yang total. Tanpa suara. Tapi dari raut mukanya, jelas dia sedang berbicara dengan hangat. Mungkin dengan orang tua, atau dengan teman sebaya. Antusiasme itu terpancar jelas, membuat siapa pun yang memandang ikut merasakan kehangatan percakapan yang tak terdengar itu.
Pengguna Bahasa Isyarat
Mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran itu beragam. Ada yang benar-benar tidak bisa mendengar sama sekali, atau dalam istilah medis disebut Anakusis. Mereka ini tidak mampu menangkap suara, sekencang apa pun. Sementara itu, ada juga yang masih memiliki sisa pendengaran, meski sangat terbatas.
Sebelum melanjutkan, saya ingin menyampaikan satu hal. Saya baru paham bahwa banyak dari komunitas disabilitas pendengaran di Tanah Air lebih menyukai sebutan Tuli (dengan 'T' kapital). Mereka anggap ini lebih menghargai. Istilah "tunarungu", yang selama ini dianggap eufemisme, justru di mata mereka terasa merendahkan karena seolah menyiratkan "kerusakan".
Penyebutan Tuli bukan cuma soal kondisi fisik. Ini juga penanda identitas sebuah kelompok masyarakat yang punya bahasa sendiri: bahasa isyarat. Maka, dalam tulisan ini, saya akan berusaha konsisten menggunakan istilah itu.
Nah, bagi mereka yang Tuli total, karena tidak bisa mendengar suara, otomatis mereka juga tidak bisa belajar menirukan kata-kata. Komunikasi sangat bergantung pada bahasa isyarat atau membaca gerak bibir. Mereka yang Tuli total biasanya juga tunawicara.
Tapi tidak semua tunawicara itu Tuli. Ada yang disebut tunawicara murni. Pendengarannya normal, tapi ada gangguan di otot mulut, artikulasi, atau perkembangan otak yang membuat mereka tidak bisa berbicara. Mereka ini juga sangat bergantung pada bahasa isyarat. Bayangkan, pendengaran baik tapi tak bisa mengeluarkan kata. Bahasa isyarat menjadi jembatan yang meminimalisasi hambatan itu, memudahkan interaksi sosial.
Lalu bagaimana dengan yang Tuli ringan atau sedang? Mereka biasanya memakai alat bantu dengar atau hearing aid. Alat ini memperkuat suara, membantu mereka mengenali kata-kata. Terapi wicara pun jadi lebih mungkin, terutama jika dimulai sejak dini.
Alat bantu dengarnya sendiri macam-macam. Ada yang dipasang di belakang telinga (BTE), ada yang dibuat khusus sesuai bentuk liang telinga (ITE, ITC, atau CIC). Ada juga model RIC, di mana speaker-nya langsung di dalam telinga.
Tapi percayalah, meski sudah pakai alat, banyak dari mereka tetap menggunakan bahasa isyarat. Sebab, alat bantu dengar tidak mengembalikan pendengaran jadi normal seratus persen. Bahasa isyarat mengurangi kelelahan mental saat harus menyimak percakapan seharian.
Bahkan ada pengecualian menarik. Seperti Yulia Dewi yang saya sebut tadi. Dalam salah satu unggahannya, dia mengaku justru tidak nyaman pakai hearing aid. Suara bising yang tiba-tiba terdengar malah mengganggu. Akhirnya, dia memilih untuk tidak menggunakannya.
Jadi, pengguna utama bahasa isyarat tetaplah para penyandang Tuli dan tunawicara murni. Di Indonesia, mereka umumnya menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) atau Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Bisindo tumbuh alami dari komunitas Tuli. Bahasa ini lahir dari kebutuhan komunikasi sehari-hari, berdasarkan pengalaman visual dan interaksi sosial. Isyaratnya cenderung sederhana, cepat, dan mudah dipahami. Ini bahasa yang hidup, penuh ekspresi wajah dan gerak tubuh yang ikonik. Menariknya, dalam budaya Tuli, berbicara sambil makan itu hal yang wajar dan sopan.
Bisindo juga lebih dari sekadar alat. Ia adalah identitas dan perekat solidaritas. Karena tumbuh di berbagai daerah, Bisindo punya dialek-dialek lokal, persis seperti bahasa lisan.
Sementara SIBI adalah sistem buatan, dikembangkan pemerintah sejak tahun 1990-an untuk pendidikan. Strukturnya mengikuti tata bahasa Indonesia yang formal dan baku, banyak menggunakan ejaan jari (finger spelling). Penggunaannya lebih banyak di sekolah luar biasa dan situasi formal.
Perbedaannya cukup jelas. Bisindo praktis, visual, sering pakai dua tangan. SIBI lebih struktural, umumnya pakai satu tangan, dan sangat memperhatikan imbuhan. Keduanya punya peran masing-masing.
Bahasa isyarat juga dipelajari oleh keluarga teman Tuli, oleh pembawa berita di TV, juru bahasa di seminar, guru-guru, dan masyarakat umum yang ingin berkomunikasi dengan lebih baik. Ia menjadi penghubung yang vital.
Gagasan Puitis dalam Gerakan
Jangan salah, bahasa isyarat bukan cuma gerakan tangan sederhana. Ini bahasa yang utuh, dengan tata bahasa kompleks. Ia mampu membawakan gagasan abstrak, filosofis, bahkan narasi puitis yang dalam melalui keunikan visual-spasialnya.
Ya, bahasa isyarat bisa sangat puitis. Ada genre bernama puisi isyarat (sign language poetry). Ini bentuk apresiasi budaya yang menonjolkan keindahan visual bahasa isyarat. Bukan puisi verbal yang diterjemahkan kata per kata, tapi ciptaan langsung dalam medium isyarat.
Puisi isyarat dipertunjukkan lewat gerakan tangan dan tubuh. Estetikanya seluruhnya visual. Di dalamnya, ada yang namanya rima visual pengulangan bentuk tangan atau gerakan di area tubuh yang sama untuk menciptakan harmoni. Ritmenya tercipta dari kecepatan, ketegangan, dan aliran gerak. Perlahan untuk kesedihan, cepat untuk ketegangan.
Penyair Tuli juga jago memanfaatkan ruang. Mereka menggunakan classifiers isyarat yang menggambarkan bentuk, ukuran, dan posisi objek untuk "melukis" pemandangan di udara. Ekspresi wajah berfungsi seperti kata sifat atau keterangan, memperkaya emosi setiap isyarat.
Metafora spasial juga kuat. Misalnya, menempatkan isyarat di lokasi tertentu untuk menyimbolkan masa lalu atau status sosial. Yang menarik, bahasa isyarat bersifat simultan. Penyair bisa menunjukkan "kesedihan" lewat wajah sementara tangannya menggambarkan "hujan", semua dalam satu waktu yang sama.
Di Indonesia, puisi isyarat telah naik panggung. Misalnya dalam pentas musikal Senandung Senyap (Oktober 2024) yang memadukan aktor Tuli dan Dengar. Atau teater musikal Jemari oleh Kelompok Fantasi Tuli (Desember 2025), yang berkisah tentang gadis penari Tuli. Karya-karya ini menghidangkan bahasa isyarat puitis lewat koreografi yang memukau.
Kelompok Fantasi Tuli bahkan punya program bernama BERISY(ART) paduan dari "berisyarat" dan "art". Program ini jadi ruang inklusif untuk mengeksplorasi lagu dan puisi lewat interpretasi artistik bahasa isyarat. Di sini, isyarat tidak hanya menyampaikan makna, tapi juga emosi dan irama.
Beberapa nama juga muncul. Seperti Abdurrahman Phieter Angdika, akademisi Tuli lulusan Gallaudet University, yang kerap membawakan puisi isyarat. Atau Rachel Ramadhini, aktivis dari Jambi, yang menyuarakan pengalaman Tuli lewat narasi literasi yang puitis.
Jadi, bahasa isyarat dalam ranah seni bukan lagi sekadar alat. Ia adalah identitas budaya dan intelektual yang setara dengan bahasa lisan.
Menyampaikan yang Kompleks
Lalu, bagaimana dengan gagasan yang rumit? Bahasa isyarat ternyata sangat mampu. Dukungan fitur linguistik khusus seperti classifiers memungkinkan penjelasan detail tentang pergerakan atau interaksi objek. Presisinya sering kali melebihi kata-kata verbal.
Konsep abstrak seperti "waktu" bisa divisualkan dengan garis imajiner di sekitar tubuh. Masa lalu: tangan bergerak ke belakang bahu. Masa kini: telapak tangan menekan di depan dada. Masa depan: tangan meluncur ke depan. Untuk "keadilan", kedua tangan datar bergerak naik-turun seimbang, seperti timbangan.
Atau konsep "paham". Jari tangan menyentuh dahi lalu menjauh, seolah cahaya menyala di kepala. "Berpikir" divisualkan dengan jari telunjuk memutar di pelipis. Semua menjadi konkret dan terlihat.
Ekspresi wajah dan gerak tubuh (non-manual markers) di sini berperan sebagai tata bahasa. Alis yang naik bisa mengubah pernyataan jadi pertanyaan. Ini memungkinkan penyampaian ironi, keraguan, atau intensitas dalam diskusi kompleks.
Canggih, Unik, dan Terus Berkembang
Sebagai sistem komunikasi, bahasa isyarat itu canggih. Multidimensional. Ia memanfaatkan ruang untuk membangun konteks, menunjukkan waktu, dan memetakan posisi. Informasi bisa disampaikan secara simultan. Misalnya, untuk menceritakan "Y memarahi X", tangan kiri dan kanan bisa mewakili kedua orang itu, lalu gerakan dan ekspresi wajah melengkapi narasi dalam satu gestur yang padat.
Isyaratnya ada yang ikonik langsung menyerupai bentuk objek, seperti "rumah" (tangan membentuk atap) atau "minum" (tangan seperti memegang gelas). Ada juga yang simbolis, berdasarkan kesepakatan, seperti "terima kasih" (tangan menyentuh dagu lalu mengarah ke depan).
Dan bahasa isyarat terus beradaptasi dengan zaman. Kini ada inovasi seperti sarung tangan pintar (smart gloves) berbasis AI yang menerjemahkan isyarat jadi teks atau suara. Ada juga aplikasi Hear Me yang mengubah suara jadi animasi isyarat secara real-time.
Uniknya, bahasa isyarat punya dialek daerah. Isyarat untuk kata yang sama bisa berbeda antara Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Ia juga tidak universal. ASL beda dengan British Sign Language, dan keduanya beda dengan Bisindo atau SIBI. Untuk pertemuan global, ada International Sign (IS) sebagai lingua franca-nya.
Terakhir, bahasa isyarat ternyata juga relevan untuk orang Dengar. Coba bayangkan: berkomunikasi di konser yang bising, atau bisik-bisik rahasia dari kejauhan, atau saat menyelam di dalam laut. Ia adalah sebuah kekayaan, sebuah cara lain untuk menjadi manusia yang utuh.
Artikel Terkait
Lebih dari 170 Ribu Anak di Sulsel Tidak Sekolah, Remaja Usia SMA Jadi Penyumbang Terbesar
Madura United Hajar Bali United 2-0, Jauh dari Zona Degradasi
Jalan Sidrap-Soppeng Semakin Rusak, Genangan Air Sembunyikan Lubang Berbahaya
Polemik Ikan Sapu-Sapu di Sungai Sa’dan: Pemda Toraja Utara Belum Temukan Bukti, Ahli Dorong Pendekatan Lingkungan