Aktivis Lingkungan Terima Teror: Bangkai Ayam Tanpa Kepala dan Ancaman Lewat Keluarga

- Rabu, 14 Januari 2026 | 23:20 WIB
Aktivis Lingkungan Terima Teror: Bangkai Ayam Tanpa Kepala dan Ancaman Lewat Keluarga

Iqbal Damanik, seorang Climate and Energy Manager di Greenpeace, baru-baru ini mengalami teror yang mengerikan. Ia mendapat kiriman mengancam: bangkai ayam tanpa kepala. Pada paket itu, terselip pesan ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri.

Usai melaporkan kejadian ini ke Bareskrim Polri di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026), Iqbal berbagi cerita kepada para wartawan yang menunggu.

"Saya terima kiriman itu tanggal 30 Desember," ujarnya, menjelaskan kronologi kejadian. "Isinya bangkai ayam, dan ada tulisan ancaman. Kira-kira bunyinya, 'Jaga mulutmu kalau mau keluargamu aman'. Lalu ada tambahan, 'Mulutmu harimaumu'."

Laporan polisi resmi telah dibuat dengan nomor LP/B/20/I/2026/SPKT/BARESKRIM/POLRI. Kasus ini disangkakan dengan Pasal 449 Ayat (2) KUHP, terkait ancaman tertulis dengan syarat tertentu.

Menurut Iqbal, teror ini bukan tanpa alasan. Ia menduga kuat ini ada kaitannya dengan aktivitas kampanye lingkungan yang ia jalani bersama Greenpeace belakangan ini. Ia berharap laporannya bisa menjadi tameng, agar para aktivis dan influencer lain tidak takut bersuara kritis.

"Kami anggap ini upaya sistematis untuk menebar ketakutan," tegas Iqbal. "Targetnya jelas: organisasi dan individu yang vokal mengkritik kebijakan untuk kebaikan bangsa. Makanya kami laporkan, biar polisi yang bertindak. Jangan sampai ada lagi yang diteror seperti ini."

Sebagai barang bukti, timnya menyerahkan bangkai ayam itu beserta tulisan ancamannya. Bukti dari media sosial juga tak luput disertakan.

Namun begitu, Iqbal bukan satu-satunya korban. Di tempat yang sama, influencer dan konten kreator Yanser juga melaporkan teror yang ia terima. Modusnya berbeda, lebih personal dan menyasar keluarga.

"Saya ditelepon lewat akun WhatsApp ibu saya sendiri," cerita Yanser, masih tampak terguncang. "Nomor ibu dan adik saya sepertinya dibobol. Ancaman mereka jelas: hapus konten-konten saya soal Sumatera dalam sebulan terakhir, atau hal tidak menyenangkan akan terjadi pada keluarga saya."

Ancaman itu ternyata bukan omong kosong. Yanser mengungkapkan, foto adiknya telah diedit secara tak senonoh dan disebar via WhatsApp. Semua ini, menurutnya, balasan karena ia menolak menghapus konten-kontennya yang membahas bencana di Sumatera. Situasi yang benar-benar membuat hati ciut.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar