Kelompok Hamas dengan tegas menyatakan bahwa para pejuangnya di Rafah, Jalur Gaza selatan, tidak akan menyerah kepada Israel. Pernyataan ini muncul di tengah upaya mediasi untuk menyelamatkan gencatan senjata yang rapuh.
Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, menegaskan bahwa konsep menyerah tidak ada dalam kamus mereka. Mereka menuduh Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pertempuran yang terjadi di Rafah.
Sementara itu, sejumlah sumber yang memahami proses mediasi mengungkapkan adanya proposal yang memungkinkan pejuang Hamas menyerahkan senjata. Sebagai imbalannya, mereka akan mendapatkan akses aman ke area lain di Jalur Gaza.
Mediator dari Mesir juga dilaporkan mengusulkan agar pejuang Hamas di Rafah menyerahkan senjata mereka kepada pihak Mesir. Proposal ini juga mencakup permintaan untuk mengungkap detail terowongan bawah tanah di wilayah tersebut agar dapat dihancurkan.
Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, menyebut bahwa proposal yang menargetkan sekitar 200 petempur Hamas ini bisa menjadi ujian awal untuk proses pelucutan senjata Hamas yang lebih luas di seluruh Jalur Gaza.
Artikel Terkait
Pemkot Jakarta Timur Pastikan Stok Pangan Aman Jelang Ramadhan 2026
Jokowi Penuhi Panggilan Penyidik di Solo untuk Keterangan Tambahan
Pindad Maung MV1 dan MV2 Pamer Kemampuan di IIMS 2026
Pasar Jaya Revitalisasi 21 Pasar dan Bangun 24 TPS Jelang Ramadan