Ledakan rudal balasan Iran ternyata menimbulkan korban di Israel. Dua orang dilaporkan terluka dan masih harus menjalani perawatan medis.
Menurut keterangan layanan darurat Magen David Adom (MDA), seorang remaja 16 tahun di Kafr Qassem menjadi salah satu korban. Ia dievakuasi ke rumah sakit pada hari Sabtu (28/2) setelah terkena pecahan peluru dari serangan tersebut.
Bukan cuma remaja itu. Ada pula pria berusia 50 tahun yang mengalami nasib serupa di kota Ka'abiyye-Tabbash. Keduanya menjadi bukti nyata bahwa serangan ini bukan tanpa dampak.
Di sisi lain, situasi chaos juga memicu korban tidak langsung. Laporan menyebutkan 86 orang lainnya menderita luka-luka ringan saat bergegas mencari tempat aman. Enam orang lagi mengalami gangguan kecemasan akibat insiden ini.
MDA sendiri tengah berjibaku. Mereka memindahkan pasien-pasien yang rentan, mulai dari yang terbaring di tempat tidur hingga yang menggunakan ventilator, ke fasilitas yang lebih terlindungi. Semua tangan dikerahkan. Seluruh 39.000 karyawan dan sukarelawan organisasi itu kini dalam kondisi siaga penuh, atau seperti yang mereka sebut, "kesiapan puncak".
Semua ini berawal dari serangkaian serangan AS dan Israel terhadap target di Iran, juga pada hari Sabtu itu. Iran membalas dengan cepat dan keras, meluncurkan rudal-rudal yang menyasar berbagai wilayah Israel.
Namun begitu, ada satu hal yang kerap menjadi sorotan dalam setiap ketegangan seperti ini: ketimpangan perlindungan. Warga Arab Israel, yang merupakan keturunan Palestina dan tetap tinggal di tanah mereka sejak 1948, menyusun kurang dari 20% dari total populasi Israel yang 10,1 juta jiwa.
Komunitas ini sering bersuara. Keluhan mereka nyaris sama setiap kali: minimnya tempat perlindungan bom di desa dan kota mereka. Kondisi itu, mau tidak mau, membuat mereka jauh lebih rentan saat serangan rudal terjadi dibandingkan warga Israel lainnya.
Artikel Terkait
MUI dan Dubes Saudi Bahas Dampak Global Konflik Timur Tengah di Jakarta
Israel Hancurkan Jembatan Vital Penghubung Tyre-Sidon di Lebanon Selatan
Tujuh Dapur Gizi di Manokwari Masih Ditangguhkan Gara-gara IPAL Tak Standar
Debat Panas Warnai Evaluasi Prolegnas 2026, RUU Migas Jadi Pemicu Kericuhan