Jangan salah, bahasa isyarat bukan cuma gerakan tangan sederhana. Ini bahasa yang utuh, dengan tata bahasa kompleks. Ia mampu membawakan gagasan abstrak, filosofis, bahkan narasi puitis yang dalam melalui keunikan visual-spasialnya.
Ya, bahasa isyarat bisa sangat puitis. Ada genre bernama puisi isyarat (sign language poetry). Ini bentuk apresiasi budaya yang menonjolkan keindahan visual bahasa isyarat. Bukan puisi verbal yang diterjemahkan kata per kata, tapi ciptaan langsung dalam medium isyarat.
Puisi isyarat dipertunjukkan lewat gerakan tangan dan tubuh. Estetikanya seluruhnya visual. Di dalamnya, ada yang namanya rima visual pengulangan bentuk tangan atau gerakan di area tubuh yang sama untuk menciptakan harmoni. Ritmenya tercipta dari kecepatan, ketegangan, dan aliran gerak. Perlahan untuk kesedihan, cepat untuk ketegangan.
Penyair Tuli juga jago memanfaatkan ruang. Mereka menggunakan classifiers isyarat yang menggambarkan bentuk, ukuran, dan posisi objek untuk "melukis" pemandangan di udara. Ekspresi wajah berfungsi seperti kata sifat atau keterangan, memperkaya emosi setiap isyarat.
Metafora spasial juga kuat. Misalnya, menempatkan isyarat di lokasi tertentu untuk menyimbolkan masa lalu atau status sosial. Yang menarik, bahasa isyarat bersifat simultan. Penyair bisa menunjukkan "kesedihan" lewat wajah sementara tangannya menggambarkan "hujan", semua dalam satu waktu yang sama.
Di Indonesia, puisi isyarat telah naik panggung. Misalnya dalam pentas musikal Senandung Senyap (Oktober 2024) yang memadukan aktor Tuli dan Dengar. Atau teater musikal Jemari oleh Kelompok Fantasi Tuli (Desember 2025), yang berkisah tentang gadis penari Tuli. Karya-karya ini menghidangkan bahasa isyarat puitis lewat koreografi yang memukau.
Kelompok Fantasi Tuli bahkan punya program bernama BERISY(ART) paduan dari "berisyarat" dan "art". Program ini jadi ruang inklusif untuk mengeksplorasi lagu dan puisi lewat interpretasi artistik bahasa isyarat. Di sini, isyarat tidak hanya menyampaikan makna, tapi juga emosi dan irama.
Beberapa nama juga muncul. Seperti Abdurrahman Phieter Angdika, akademisi Tuli lulusan Gallaudet University, yang kerap membawakan puisi isyarat. Atau Rachel Ramadhini, aktivis dari Jambi, yang menyuarakan pengalaman Tuli lewat narasi literasi yang puitis.
Jadi, bahasa isyarat dalam ranah seni bukan lagi sekadar alat. Ia adalah identitas budaya dan intelektual yang setara dengan bahasa lisan.
Menyampaikan yang Kompleks
Lalu, bagaimana dengan gagasan yang rumit? Bahasa isyarat ternyata sangat mampu. Dukungan fitur linguistik khusus seperti classifiers memungkinkan penjelasan detail tentang pergerakan atau interaksi objek. Presisinya sering kali melebihi kata-kata verbal.
Konsep abstrak seperti "waktu" bisa divisualkan dengan garis imajiner di sekitar tubuh. Masa lalu: tangan bergerak ke belakang bahu. Masa kini: telapak tangan menekan di depan dada. Masa depan: tangan meluncur ke depan. Untuk "keadilan", kedua tangan datar bergerak naik-turun seimbang, seperti timbangan.
Atau konsep "paham". Jari tangan menyentuh dahi lalu menjauh, seolah cahaya menyala di kepala. "Berpikir" divisualkan dengan jari telunjuk memutar di pelipis. Semua menjadi konkret dan terlihat.
Ekspresi wajah dan gerak tubuh (non-manual markers) di sini berperan sebagai tata bahasa. Alis yang naik bisa mengubah pernyataan jadi pertanyaan. Ini memungkinkan penyampaian ironi, keraguan, atau intensitas dalam diskusi kompleks.
Canggih, Unik, dan Terus Berkembang
Sebagai sistem komunikasi, bahasa isyarat itu canggih. Multidimensional. Ia memanfaatkan ruang untuk membangun konteks, menunjukkan waktu, dan memetakan posisi. Informasi bisa disampaikan secara simultan. Misalnya, untuk menceritakan "Y memarahi X", tangan kiri dan kanan bisa mewakili kedua orang itu, lalu gerakan dan ekspresi wajah melengkapi narasi dalam satu gestur yang padat.
Isyaratnya ada yang ikonik langsung menyerupai bentuk objek, seperti "rumah" (tangan membentuk atap) atau "minum" (tangan seperti memegang gelas). Ada juga yang simbolis, berdasarkan kesepakatan, seperti "terima kasih" (tangan menyentuh dagu lalu mengarah ke depan).
Dan bahasa isyarat terus beradaptasi dengan zaman. Kini ada inovasi seperti sarung tangan pintar (smart gloves) berbasis AI yang menerjemahkan isyarat jadi teks atau suara. Ada juga aplikasi Hear Me yang mengubah suara jadi animasi isyarat secara real-time.
Uniknya, bahasa isyarat punya dialek daerah. Isyarat untuk kata yang sama bisa berbeda antara Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Ia juga tidak universal. ASL beda dengan British Sign Language, dan keduanya beda dengan Bisindo atau SIBI. Untuk pertemuan global, ada International Sign (IS) sebagai lingua franca-nya.
Terakhir, bahasa isyarat ternyata juga relevan untuk orang Dengar. Coba bayangkan: berkomunikasi di konser yang bising, atau bisik-bisik rahasia dari kejauhan, atau saat menyelam di dalam laut. Ia adalah sebuah kekayaan, sebuah cara lain untuk menjadi manusia yang utuh.
Artikel Terkait
Lari: Langkah Kecil untuk Menjaga Kewarasan di Tengah Hidup yang Serba Cepat
Tim Khusus Polri Buru Buronan Korupsi Minyak Mentah ke Luar Negeri
Ironi di Balik Ucapan Terima Kasih: Dosen Sibuk Mengecek Tunjangan, Bukan Membangun Peradaban
Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban