Kejadian di Jambi itu benar-benar bikin kita merinding. Seorang guru dikeroyok sebuah peristiwa yang, sayangnya, bukan yang pertama. Tapi, yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar kronologi kriminal adalah apa yang tersembunyi di baliknya: sebuah sinyal bahaya tentang cara kita melihat konflik, otoritas, dan keadilan. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya menentukan masa depan: bolehkah kita, dengan dalih apa pun, membenarkan aksi semacam itu? Sama sekali tidak. Baik dari sudut moral, hukum, maupun pendidikan, tindakan itu tak bisa diterima.
Secara moral, pengeroyokan adalah tindakan yang menghancurkan martabat. Filsuf Immanuel Kant pernah bilang, manusia harus selalu jadi tujuan, bukan alat pelampiasan. Nah, saat seorang guru dijadikan sasaran amuk massa, ia tak lebih dari objak kemarahan. Martabatnya sebagai manusia diinjak-injak.
Padahal, kekerasan semacam itu justru menunjukkan kegagalan menggunakan akal sehat hal yang justru membedakan manusia bermoral dari yang lain. Sekalipun seorang guru diduga bersalah, martabatnya sebagai manusia tak pernah hilang dan tak boleh dihapus dengan cara brutal.
Di sisi lain, hukum kita sudah jelas mengaturnya. Pengeroyokan adalah tindak pidana. Negara hukum tidak memberi ruang untuk main hakim sendiri. Kant juga menegaskan, keadilan hanya bisa tegak kalau kita tunduk pada hukum yang rasional, bukan pada emosi sesaat yang meledak-ledak.
Kalau ada ketidakpuasan entah soal metode mengajar, disiplin, atau hal lain kan ada jalurnya. Lapor ke sekolah, komite, dinas pendidikan, atau bahkan kepolisian. Begitu kekerasan yang dipilih, yang terjadi malah keadilan yang runtuh. Pihak yang awalnya merasa dirugikan malah berubah jadi pelanggar hukum baru.
Dampaknya dalam dunia pendidikan jauh lebih dalam dan bakal terasa lama. Sekolah seharusnya jadi tempat kita belajar nilai-nilai: cara berdialog, mengendalikan diri, menyelesaikan masalah secara beradab. Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis, mengingatkan bahwa pendidikan sejati itu berdasar dialog, bukan paksaan; pada kesadaran, bukan penindasan.
Kekerasan terhadap guru adalah bentuk anti-dialog. Itu praktik dehumanisasi, sesuatu yang justru diperangi Freire. Bayangkan pesan apa yang sampai ke murid-murid: bahwa masalah bisa diselesaikan dengan pengeroyokan, bukan dengan diskusi dan tanggung jawab. Sungguh berbahaya.
Namun begitu, menolak kekerasan bukan berarti menganggap guru selalu benar. Mereka juga manusia biasa, bisa salah dan lalai. Tapi, seperti ditegaskan Freire, kritik yang membebaskan harus mengarah pada perbaikan sistem dan peningkatan kesadaran, bukan pada penghancuran individu. Kritik harus proporsional, berdasar fakta, dan lewat prosedur yang benar. Di sinilah peran institusi dan negara sangat krusial: menegakkan disiplin profesional secara adil sekaligus melindungi guru dari ancaman.
Kasus Jambi ini harus jadi alarm buat semua. Buat masyarakat, ini pengingat bahwa kemarahan jangan sampai membunuh nalar. Buat sekolah dan dinas, ini tanda bahwa kanal pengaduan dan mediasi konflik harus diperkuat. Dan buat negara, ini panggilan untuk hadir secara tegas melindungi guru tanpa menutup mata pada akuntabilitas.
Sejarah sudah membuktikan, kekerasan tak pernah melahirkan keadilan sejati. Pengeroyokan terhadap guru, dalam kondisi apa pun, adalah pengkhianatan terhadap prinsip hidup bersama dalam masyarakat beradab. Keadilan dalam negara hukum lahir dari penghormatan pada proses, bukan dari luapan emosi massa.
Begitu kekerasan dijadikan solusi, yang terjadi malah lingkaran setan. Nalar dikalahkan amarah, dialog diganti pentungan. Masalahnya tidak selesai, malah bertambah rumit, menjauhkan kita semua dari keadilan yang kita cari.
Pada akhirnya, kalau pendidikan seperti kata Kant tujuannya membentuk manusia yang bermoral dan berpikir dewasa, dan seperti keyakinan Freire adalah proses memanusiakan manusia lewat dialog, maka kekerasan terhadap guru adalah pengkhianatan terhadap hakikat pendidikan itu sendiri.
Aksi itu bukan cuma melukai seorang guru. Lebih dari itu, ia merusak makna pendidikan sebagai fondasi peradaban. Ketika amarah massa dibiarkan menguasai panggung, yang runtuh bukan cuma wibawa seorang pendidik. Yang ambruk adalah kepercayaan kita pada pendidikan sebagai jalan untuk membangun manusia dan masyarakat yang beradab.
Artikel Terkait
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1
Empat Korban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Masih Dirawat Intensif, Pelaku Terungkap Motif Sakit Hati
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Manfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain