Pasar modal Indonesia baru saja menorehkan sejarah. Babak baru ini ditandai dengan jumlah investor domestik yang, untuk pertama kalinya, menembus angka psikologis 20 juta orang. Tepatnya, pada akhir Desember 2025, basis investor tercatat mencapai 20,36 juta. Ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah.
Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, mengungkapkan angka itu dalam konferensi pers hasil RDKB, Jumat lalu.
"Dengan perkembangan tersebut, secara year-on-year jumlah investor di pasar modal meningkat sebesar 5,49 juta atau menjadi secara keseluruhan 20,36 juta. Artinya, kita melihat pertumbuhan yang cukup tajam, sekitar 36,95 persen," ujar Inarno.
Lonjakan hampir 37 persen dalam setahun ini tentu bukan angka main-main. Pertumbuhan masif itu didorong oleh gelombang 5,49 juta investor baru sepanjang 2025. Menariknya, antusiasme masih tinggi hingga akhir tahun, dengan 694 ribu orang tercatat bergabung hanya di bulan Desember.
Di sisi lain, kinerja pasar sendiri tetap solid meski ada dinamika global yang tak menentu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup tahun 2025 di level 8.646,94. Angka itu merepresentasikan penguatan tahunan yang sangat signifikan, yaitu 22,13 persen. Tak tanggung-tanggung, sepanjang tahun, bursa domestik memecahkan rekor all-time high hingga 24 kali. Puncaknya, kapitalisasi pasar sempat menyentuh angka fantastis: Rp16.000 triliun.
"Sejalan dengan terjaganya kinerja perekonomian nasional dan sentimen positif global, pasar modal Indonesia menutup 2025 dengan solid. IHSG menguat 1,62 persen secara bulanan, atau 22,13 persen secara tahunan," jelas Inarno lagi.
Namun begitu, yang paling menarik mungkin adalah pergeseran struktural yang terjadi. Dominasi pasar rupanya tak lagi mutlak di tangan institusi besar. Inarno menyoroti bahwa investor ritel domestik kini justru menjadi motor penggerak likuiditas utama.
Peran mereka melonjak drastis. Proporsi transaksi investor ritel naik tajam dari 38 persen di 2024 menjadi 50 persen di 2025. Dampaknya langsung terasa pada likuiditas. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tahun 2025 melonjak ke Rp18,07 triliun, jauh dari angka Rp12,85 triliun di tahun sebelumnya. Bahkan, pada Desember 2025, RNTH bulanan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level Rp27,19 triliun.
Tren positif ini ternyata merata. Indeks komposit ICBI naik 1,08 persen. Yield Surat Berharga Negara turun signifikan, sekitar 80,91 bps, yang menandakan penguatan harga obligasi. Aset yang dikelola industri pengelolaan investasi (AUM) tembus Rp1.033,81 triliun, tumbuh 23,49 persen. Kemudian, total nilai penawaran umum korporasi mencapai Rp274,80 triliun melampaui target awal yang ‘hanya’ Rp220 triliun. Sektor baru seperti bursa karbon juga mulai bergerak, mencatat 150 pengguna jasa dengan volume transaksi 1,81 juta ton CO2 senilai Rp87 miliar.
Dengan basis investor yang kini sangat luas, melewati 20 juta orang, OJK merasa perlu memperketat pengawasan. Komitmen perlindungan konsumen dan tata kelola emiten akan ditingkatkan. Salah satu buktinya adalah penerbitan POJK Nomor 40 Tahun 2025 yang mengatur secara ketat penggunaan dana hasil penawaran umum atau IPO.
"Peraturan ini diterbitkan untuk meningkatkan perlindungan kepada masyarakat pemodal, meningkatkan kualitas pelaporan dan tata kelola. Intinya, memastikan dana hasil IPO itu digunakan sesuai rencana yang tercantum dalam prospektus," tutur Inarno menegaskan.
Jadi, inilah wajah baru pasar modal Indonesia: lebih masif, lebih ritel, dan tentu saja, dengan tantangan pengawasan yang juga semakin kompleks.
Artikel Terkait
BRImo Raih Penghargaan Inovasi Digital, Catat 48,43 Juta Pengguna Hingga April 2026
IHSG Ditutup Melemah Tipis, MNC Sekuritas Proyeksikan Koreksi Lanjutan ke Level 5.899
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,799 Juta per Gram pada Perdagangan Hari Ini
Saham Grup Prajogo Mendominasi, Nilai Transaksi Harian BEI Melonjak 30 Persen