Yang mengejutkan, penelitian tahun 2019 oleh Andrea Ravignani dkk. di Current Biology mengungkap sesuatu yang luar biasa.
Temuan ini sungguh mencengangkan. Manusia dan indri terpisah oleh evolusi sekitar 77 juta tahun. Namun, tampaknya ada mekanisme kognitif serupa yang mengatur irama. Dalam wawancara dengan The New York Times, Ravignani menyebut kemampuan ini mirip metronom internal.
Fakta sains ini seperti menggemakan kepercayaan lokal. Mitologi Malagasi memang memuliakan indri. Nama 'babakoto' bisa berarti kakek, ayah kecil, atau leluhur. Banyak legenda menyatakan manusia dan indri berasal dari satu keluarga; bahwa indri adalah manusia yang memilih tinggal di hutan. Kepercayaan ini melahirkan fady atau tabu untuk membunuh mereka, sebuah perlindungan kultural yang tak ternilai.
Di sisi lain, realitasnya kini pahit. Status konservasi indri berada di titik Kritis menurut IUCN. Populasinya mungkin hanya tersisa antara 1.000 hingga 10.000 ekor. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Hutan tempat mereka bernyanyi terus menyusut oleh penebangan, pertanian, dan pembangunan jalan.
Jadi, di tengah hutan Madagaskar yang semakin senyap, nyanyian indri bukan sekadar komunikasi. Ia adalah gema dari masa lalu evolusi kita, sebuah warisan budaya yang hidup, dan sekaligus sirene peringatan. Suara itu panjang, berlapis, dan berirama. Tapi bisakah kita masih mendengarnya di masa depan?
Artikel Terkait
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan
Uban Bisa Dibalik? Rahasianya Ternyata pada Sel yang Macet
Separuh Umat Manusia Terancam Terpanggang pada 2050
Blibli Gelar Double Day 2.2, Diskon 22% Siapkan Ramadan Tanpa Ribet