Di tengah seminar soal mitigasi bencana, Megawati Soekarnoputri menyuarakan kegelisahannya. Ketua Umum PDIP itu meminta setiap daerah segera memiliki alarm bencana alam. Gagasannya sederhana, bahkan memanfaatkan alat tradisional.
"Nah orang saya aja minta sama pemerintah daerah, mbok ya kamu kalau daerahnya itu udah ada, mungkin kemungkinan ada bencana gitu, mbok pasang ini, Anda seperti itu," ujar Mega.
Dia tampak gregetan. "Alah, kadang saya sampai sebel, ya uangnya kan nggak ada, waduh mati dah gua," tambahnya, dalam Seminar Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban di Jakarta International Equestrian Park, Jumat lalu.
Lalu, apa solusinya jika anggaran terbatas? Megawati lantas mengajak hadirin mengingat kentongan. Atau alat sejenisnya yang bisa dibikin dari bambu.
"Lah tau kentongan apa nggak? Di daerah kamu yang lain apa namanya saya nggak tahu apa, entahlah pokoknya namanya, tapi ngerti maksud saya kan, nggak ada umpamanya ini, pake opo bambu, pake tok tok tok," sambungnya.
Menurutnya, bunyi kentongan bisa jadi penanda yang efektif. Iramanya saja yang perlu disepakati. Misalnya, ketukan pertama sebagai tanda siaga. Warga bersiap. Lalu, bila diikuti rentetan ketukan panjang dan berulang, itu artinya waktunya evakuasi. Harus lari.
"Nah, kalo di Jawa itu kentongan, jadi aritiannya gimana, nomor 1, tuong, tuong, nah berarti eh ada apa nih ya, kan gitu," jelas Megawati.
Dia melanjutkan dengan semangat. "Lah kalau nggak ada alarm, ya kenapa nggak bikin aja sendiri, itu kan hanya signal, tanda bahaya, SOS."
Inspirasi ini dia dapatkan dari pengalaman langsung di Jepang. Negeri itu, menurutnya, sudah punya sistem peringatan yang sangat mapan. Megawati bercerita saat sedang makan di restoran Hoka-Hoka Bento, tiba-tiba sirene pertama berbunyi.
"Kalau di Jepang dibuat sirene, sirene pertama saya itu pernah ngalami. Lagi makan Hoka-Hoka Bento sama anak-anak, tau-tau kok bunyi sirene pertama. Nah, saya padahal sudah dibilangi teman saya orang Jepang. Kalau ada sirene itu kita mau nggak mau, harus segera pergi," ucapnya.
Momen itu berkesan. Alarm kedua yang berbunyi nyaring membuatnya spontan berdiri, siap menyelamatkan diri.
"Yang harus kita tunggu yang kedua. Yang kedua bunyi nguing, nguing, nguing, nguing, nguing, nguing, nguing, nguing, nguing," kenangnya, menirukan suara sirene yang khas.
Lalu dia menghela napas. "Fukusima itu luar biasa, saya bilang, kapan Indonesia bisa gini?"
Pertanyaan itu menggantung. Namun begitu, lewat kentongan dan kearifan lokal, Mega seolah memberi titik terang. Sebuah cara sederhana yang bisa segera diwujudkan, tanpa perlu menunggu sirene canggih.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi