IHSG Terombang-ambing, Investor Disarankan Berburu Saham Unggulan di Tengah Sorotan MSCI

- Selasa, 03 Februari 2026 | 12:40 WIB
IHSG Terombang-ambing, Investor Disarankan Berburu Saham Unggulan di Tengah Sorotan MSCI

Pasar saham kita lagi ga stabil banget. IHSG masih seperti diombang-ambing, dan bayang-bayang peringatan dari MSCI, si pengelola indeks global, soal masalah investabilitas dan transparansi di sini, bikin investor was-was. Nah, di tengah kondisi kayak gini, para analis bilang satu hal: pilah-pilih saham itu kunci. Carilah emiten dengan fundamental kuat, atau yang bagiain dividennya menarik, biar bisa lebih tahan banting.

Padahal, Selasa kemarin (3/2/2026), IHSG sempat bernafas lega dengan penguatan 1,25 persen ke level 8.021,82. Ini terjadi setelah tekanan jual yang cukup hebat sebelumnya. Data BEI mencatat, nilai transaksi mencapai Rp13,28 triliun. Yang menarik, mayoritas saham alias 548 kode justru naik, sementara yang turun 'cuma' 199. Ternyata, rebound ini digerakkan oleh saham-saham konglomerat berkapitalisasi gede.

Memang, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Ingat aja, Rabu dan Kamis pekan lalu, IHSG sempat anjlok lebih dari 8 persen intraday sampai-sampai trading halt diberlakukan. Pemicunya jelas: sorotan MSCI terhadap praktik perdagangan dan struktur kepemilikan saham di Indonesia. Mereka minta perbaikan tata kelola. Koreksi itu berlanjut di awal pekan, dengan IHSG ditutup anjlok 4,88 persen pada Senin (2/2).

Lalu, bagaimana strateginya sekarang?

Pengamat pasar modal Michael Yeoh punya pandangan. Menurutnya, koreksi belakangan ini lebih ke masalah struktural regulasi, bukan cerminan fundamental perusahaan yang jelek. Justru, momen ini bisa jadi pintu masuk.

"Ini adalah kesempatan berharga bagi para investor, terutama investor pemula, untuk memiliki saham dengan fundamental kuat," katanya.

Dia juga ngasih catatan, imbal hasil dividen beberapa saham sekarang ini ternyata lebih kompetitif ketimbang naroh duit di deposito. Jadi, ada nilai tambahnya.

Di kubu sekuritas, sikapnya beragam. UBS, Goldman Sachs, dan Nomura misalnya, memangkas rekomendasi untuk saham Indonesia. Tapi DBS beda. Mereka tetap pertahankan rekomendasi overweight.

"Secara fundamental, pandangan kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar," tegas DBS.


Halaman:

Komentar