Mereka bilang, sambil nunggu ketidakpastian mereda dan dana asing balik lagi, investor bisa manfaatkan koreksi buat ngumpulin saham unggulan. Apalagi, rasio harga terhadap laba (P/E) IHSG dan LQ45 saat ini masih di bawah rata-rata sejarahnya. Murah, lah.
Tapi ya, ada juga yang ambil sikap lebih hati-hati.
Daniel Tan dari Grasshopper Asset Management misalnya. Dia perkirakan ketidakpastian ini masih akan berlanjut sampai Mei nanti, saat MSCI jadwal tinjau ulang akses pasar Indonesia.
"Jika investor belum memiliki eksposur, mereka sebaiknya mengambil sikap menunggu dan melihat (wait and see) sebelum terlibat," ujarnya.
Pendapat senada datang dari Jeffrosenberg Lim, Kepala Riset Maybank Sekuritas. Dia ngeliat, pengunduran diri sejumlah petinggi regulator baru-baru ini bikin pasar bertanya-tanya. Pemulihan optimisme, kata dia, sangat tergantung pada kemampuan pemerintah menunjuk pemimpin yang kredibel dan bikin peta jalan reformasi yang jelas.
Di sisi lain, Morgan Stanley lewat analis Derrick Y. Kam, ngeliat ada secercah harapan. Mereka sebut respons otoritas Indonesia terhadap MSCI sebagai 'perkembangan yang menggembirakan'. Valuasi saham kita juga dianggap murah. Tapi, mereka tetap warning.
"Kami percaya valuasi dapat tetap tertekan untuk beberapa waktu," tulis mereka, khawatir dengan tren perlambatan laba dalam dolar AS.
Lantas, apa yang sudah dilakukan otoritas? Hasan Fawzi dari OJK menyebut, sudah ada pertemuan dengan MSCI. Mereka ajukan sejumlah usulan, seperti nambah klasifikasi investor, wajibkan pengungkapan kepemilikan di atas 1 persen, dan rencanakan naikkan batas minimum free float saham dari 7,5 persen jadi 15 persen. Langkah konkret, tapi hasilnya masih harus ditunggu.
Intinya, pasar lagi uji nyali. Volatilitas tinggi, tapi peluang juga selalu ada bagi yang jeli. Semuanya kembali ke tangan investor.
Artikel Terkait
Dana Asing Tumpah Rp 600 Miliar, IHSG Merangkak ke Zona Hijau
IHSG Bangkit 1,57%, Sentuh Level 8.047 di Tengah Euforia Sektor Hijau
Menteri Perindustrian Pacu Industri Keramik Naik Kelas, Gangguan Baku dari Jabar Jadi Tantangan
Slovakia Tawarkan Ilmu Nuklir 60 Tahun, Indonesia Balas dengan Undangan Investasi