Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita punya target yang cukup ambisius. Ia mendorong industri keramik dalam negeri untuk bisa merangsek masuk ke jajaran empat besar dunia. Saat ini, posisi kita masih di peringkat kelima. Menurutnya, misi itu bukan mustahil.
“Kami optimis, dengan kinerja yang terus meningkat, misi naik ke posisi keempat dunia ini bisa segera tercapai,” ujar Agus.
Ia menyampaikan hal itu dalam acara Pelantikan Dewan Pengurus Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) periode 2026-2029, di kantornya di kawasan Tulodong, Jakarta Selatan, Selasa (3/1).
Memang, kalau dilihat dari proyeksi 2025, Indonesia masih tertinggal di bawah China, India, Brasil, dan Vietnam. Salah satu tantangannya ada di angka konsumsi. Konsumsi keramik per kapita di dalam negeri ini masih terbilang rendah, cuma sekitar 2,5 meter persegi. Angka itu jauh di bawah rata-rata negara Asia lainnya yang sudah menyentuh 3 hingga 3,5 meter persegi.
“Kita ada di 2,5 meter,” katanya menegaskan.
Bandingkan dengan China, produsen utama dunia, yang tingkat konsumsinya mencapai 4 meter persegi per kapita. Nah, terkait hal ini, Agus punya ide. Ia ingin lantai-lantai bangunan di Indonesia yang masih berupa tanah atau bahan lain, bisa diganti dengan keramik.
“Kita bisa ubah menjadi keramik. Tentu ada multiplier effect-nya. Lingkungan hidup di perumahan jadi lebih bersih, lebih sehat. Artinya, kita juga menciptakan manusia yang lebih sehat. Hanya dengan mengubah lantai tanah ke ubin keramik,” papar Agus.
Di sisi lain, secara kapasitas, industri keramik nasional sebenarnya cukup tangguh. Ada 36 perusahaan dengan kapasitas terpasang mencapai 650 juta meter persegi. Tingkat utilisasi di 2025 lalu sekitar 73 persen, dan tahun ini ditargetkan bisa naik ke 80 persen.
Bahkan, Asaki dengan percaya diri menyatakan bahwa industri keramik Indonesia sudah swasembada.
“Kami berani menyampaikan, industri keramik hari ini sudah swasembada. Tanpa impor, kami bisa memenuhi semua permintaan keramik dalam negeri,” tegas Ketua Asaki, Edy Suyanto.
Kendala dari Jawa Barat
Namun begitu, cerita manis itu tak lepas dari ganjalan. Agus mengaku mendapat laporan soal tantangan di lapangan, terutama terkait pasokan bahan baku. Masalahnya berpusat di Jawa Barat, di mana pemerintah daerah setempat menerapkan kebijakan moratorium suplai bahan baku untuk industri keramik.
Padahal, menurut Agus, inilah persoalan serius. Sebab, secara nasional, 50-60 persen bahan baku industri keramik justru bersumber dari Jawa Barat.
“Jadi, bayangkan betapa pentingnya,” ujarnya.
Menyikapi hal ini, Agus mengaku sudah berusaha menghubungi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Sayangnya, sambungannya tak terjawab.
“Tadi saya coba telepon Pak KDM tapi tidak diangkat. Saya coba WA juga. Saya sudah beri arahan ke Dirjen IKFT untuk segera melakukan pendekatan ke Pemerintah Jawa Barat. Kita pelajari masalahnya dan cari jalan keluar terbaik,” kata Agus menjelaskan upayanya.
Jadi, di balik optimisme mengejar peringkat empat dunia, rupanya ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Terutama soal jaminan pasokan bahan baku dari daerah penyangga utamanya.
Artikel Terkait
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.401 per Dolar AS, Tertekan Faktor Domestik
IHSG Berpotensi Kembali Tertekan, Aksi Jual Asing Capai Rp791 Miliar
Target Pendapatan Melonjak 1.584 Persen, GPSO Bidik Rp92,47 Miliar Usai Diakuisisi Tjokro Group
Semen Indonesia Siapkan Dana Rp730 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo