Prabowo Gelar Pertemuan Krusial dengan Tokoh Agama Bahas Rencana Masuk Board of Peace Trump

- Selasa, 03 Februari 2026 | 15:24 WIB
Prabowo Gelar Pertemuan Krusial dengan Tokoh Agama Bahas Rencana Masuk Board of Peace Trump

Di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama. Agenda utamanya? Membahas rencana bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pertemuan ini jelas menyimpan bobot politik yang tidak ringan.

Hadir dalam kesempatan itu berbagai nama penting. Mulai dari Ketua Umum MUI Anwar Iskandar beserta jajarannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar, hingga tokoh seperti Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun. Dari kalangan Nahdlatul Ulama, tampak Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi dan Khofifah Indar Parawansa, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta perwakilan dari Hidayatullah, Naspi Arsyad dan Nanang Noerpatria.

Merespon undangan tersebut, Sudarnoto Abdul Hakim dari MUI Bidang Hubungan Luar Negeri mengaku bersyukur. Baginya, langkah Prabowo membuka komunikasi langsung dengan para tokoh kunci adalah sebuah langkah tepat.

"Saya memang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran saya kalau komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat luas tidak dilakukan, apalagi menyangkut soal yang sungguh sangat penting yaitu BoP dan keterlibatan Indonesia di dalamnya," ujar Sudarnoto, Selasa (3/2).

Tanpa dialog semacam ini, menurutnya, bisa timbul masalah serius di dalam negeri. Ia khawatir terjadi keterbelahan antara pemerintah dan rakyat.

"Saya tidak ingin terjadinya keterbelahan, kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat. Karena itu saya senang, bersyukur atas keputusan presiden untuk mengundang para tokoh kunci hari ini," kata dia.

Harapannya, pertemuan ini tak sekadar seremonial. Ia ingin hasilnya benar-benar membawa manfaat bagi kepentingan nasional Indonesia, juga bagi Palestina dan upaya global menciptakan perdamaian yang berkeadilan.

"Terkait dengan itu saya sangat berharap kepada semua tokoh umat untuk memanfaatkan momentum pertemuan ini dengan menyampaikan pandangan jujur dan kritis terkait dengan BoP dan keterlibatan Indonesia dalam BoP," tegas Sudarnoto.

Poin ini ia anggap krusial. Komitmen Indonesia membela kemerdekaan Palestina dan menuntut pertanggungjawaban Israel, harus diwujudkan melalui jalan diplomasi yang cerdas. Jalan yang sejalan dengan amanat konstitusi dan hukum internasional, tentunya.

Namun begitu, Sudarnoto punya catatan pedas. Menurutnya, perdamaian yang sejati harus dibarengi dengan keadilan. Dan di situlah letak persoalannya.

"Dan Trump gagal membuktikan keadilan ini, nyatanya pasca-penandatanganan BoP pembunuhan masih dilakukan oleh Israel," ucapnya tanpa tedeng aling-aling.

Ia melihat isu perdamaian dan keadilan global justru sedang diobrak-abrik oleh rezim Amerika. Posisi Indonesia, sebagai negara yang sejak dulu konsisten melawan penjajahan, harus tetap kokoh. Konsistensi membela Palestina dan menentang pendudukan Israel yang didukung AS, tak boleh goyah.

Lantas, bagaimana melawan ketidakadilan? Sudarnoto menekankan cara-cara yang beradab. Diplomasi yang bermartabat, menurutnya, adalah senjata utama. Dan Indonesia, dengan fondasi Pancasila, punya peluang besar untuk menunjukkan kemampuan itu. Sejarah panjang bangsa ini sudah membuktikannya.

"Tentu saya sangat berharap pertemuan presiden dan tokoh-tokoh Islam membuahkan hasil konstruktif untuk national interest dan untuk Gaza dan Palestina. Tentu juga untuk perdamaian dan keadilan," harapnya.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi sekaligus komitmen.

"Para tokoh Islam pun juga memiliki peluang yang baik untuk memandang persoalan ini secara kritis. Terima kasih Pak Presiden, Insyaallah kami selalu membersamai bapak untuk perjuangan kemerdekaan Palestina dan penghapusan penjajahan termasuk Israel," pungkas Sudarnoto.

Pertemuan di Istana itu telah usai. Sekarang, tinggal menunggu tindak lanjut dan buah dari dialog yang diharapkan banyak pihak itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar