Kemunculan ikan predator jenis sapu-sapu di aliran Sungai Sa’dan, Toraja Utara, mulai menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Isu ini mencuat setelah beredar luas sebuah video yang memperlihatkan seorang tokoh lingkungan penerima penghargaan Kalpataru 2022, Pendeta Rasely Sinampe, yang mengklaim berhasil menangkap sejumlah ikan tersebut pada Senin (4/5/2026) malam.
Dalam video yang tersebar di berbagai platform, Rasely menyampaikan kekhawatirannya bahwa keberadaan ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kelangsungan hidup ikan-ikan lokal di sungai tersebut. Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Toraja Utara untuk segera mengambil langkah antisipatif sebelum populasi ikan itu berkembang secara tidak terkendali.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong menyatakan bahwa hingga saat ini pemerintah daerah belum menerima laporan atau temuan resmi terkait keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan. “Mengenai predator ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan, sampai saat ini belum ditemukan,” ujar Frederik yang akrab disapa Dedy pada Selasa (5/5/2026).
Meskipun belum ada temuan formal, pemerintah daerah mulai membahas sejumlah skenario pencegahan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pengendalian populasi melalui penangkapan secara masif apabila di kemudian hari terjadi peningkatan jumlah ikan tersebut. “Kami sementara membahas kemungkinan langkah pengendalian melalui penangkapan masif sebagai upaya antisipasi, meskipun belum ada temuan resmi,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (PP HAKLI), Johny Sumbung, menilai isu kemunculan ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan perlu ditangani secara komprehensif. Ia menegaskan bahwa penanganan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan.
Menurut Johny, pengendalian melalui pemusnahan massal tanpa dibarengi perbaikan kondisi lingkungan hanya akan bersifat jangka pendek dan berisiko menimbulkan persoalan sosial maupun ekologis baru. “Pengendalian tanpa memperbaiki kualitas lingkungan hanya bersifat sementara, bahkan bisa menimbulkan dampak sosial dan ekologis,” jelas Johny yang juga merupakan guru besar kesehatan lingkungan.
Ia memaparkan bahwa banyak sungai di Indonesia mengalami degradasi akibat pencemaran limbah tanpa pengolahan, erosi, serta menyusutnya ruang terbuka hijau. Kondisi tersebut memicu perubahan ekosistem, sehingga spesies asli tersisih dan digantikan oleh jenis ikan yang lebih toleran terhadap lingkungan tercemar, seperti ikan sapu-sapu. Johny pun menekankan pentingnya penerapan pendekatan one health dalam penanganan persoalan ini, dengan menitikberatkan pada penyelesaian akar masalah. “Langkah yang perlu dilakukan adalah meningkatkan akses sanitasi layak, mengendalikan pencemaran, mengedukasi masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat, serta memperkuat kebijakan lintas sektor,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Jalan Sidrap-Soppeng Semakin Rusak, Genangan Air Sembunyikan Lubang Berbahaya
Anggota DPR: Nasib 1,6 Juta Guru Honorer Masih Jauh dari Layak, Negara Dinilai Abaikan Hak Konstitusional
Polisi Tangkap Empat Pemuda Dalang Aksi Brutal Geng Motor di Makassar
PGR Sulsel Resmi Kantongi SKT dari Kemenkum, Targetkan Ikut Pemilu 2029