Iran Peringatkan AS agar Tak Eskalasi Militer di Selat Hormuz di Tengah Klaim Serangan Terbaru

- Selasa, 05 Mei 2026 | 18:20 WIB
Iran Peringatkan AS agar Tak Eskalasi Militer di Selat Hormuz di Tengah Klaim Serangan Terbaru

Negosiator utama Iran yang berpengaruh, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat untuk tidak meningkatkan eskalasi militer di Selat Hormuz. Peringatan ini muncul di tengah rentetan serangan yang kembali memicu ketegangan di jalur perairan strategis tersebut, sekaligus menghidupkan kembali ancaman konflik terbuka di Timur Tengah.

Militer Amerika Serikat mengklaim bahwa helikopter Apache dan Seahawk telah menghancurkan enam kapal Iran yang dinilai mengancam pelayaran komersial di kawasan itu. Presiden Donald Trump secara terpisah menyatakan bahwa pasukan AS telah “menghancurkan” tujuh kapal militer kecil Iran di perairan yang sama. Klaim ini mempertegas posisi Washington dalam mengamankan jalur pelayaran internasional yang sangat vital bagi pasokan energi global.

Sementara itu, militer AS juga mengklaim berhasil menepis serangan rudal dan drone pada Senin, 4 Mei. Di sisi lain, Uni Emirat Arab salah satu negara Teluk yang menjadi pangkalan aset militer Amerika melaporkan adanya rentetan serangan terbaru Iran di wilayahnya. Laporan ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak lagi terbatas pada perairan, melainkan telah merambah ke daratan negara-negara tetangga.

Peringatan dari Ghalibaf disampaikan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan misi terbaru militer AS untuk memandu kapal-kapal dari negara-negara netral keluar dari perairan Teluk dengan melintasi Selat Hormuz. Pengumuman itu mempertegas niat Washington untuk tetap mengendalikan jalur perairan yang selama ini menjadi titik rawan sengketa.

Iran dan Amerika Serikat sama-sama mengklaim telah melancarkan serangan di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mengendalikan jalur perairan yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas dunia. Kedua negara juga telah memberlakukan blokade maritim di kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir, memperburuk situasi keamanan di salah satu titik paling strategis di peta geopolitik global.

“Kami mengetahui betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika; sementara kami bahkan belum memulai,” kata Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai ketua parlemen Iran, melalui pernyataan di media sosial X. Pernyataan ini menegaskan sikap Teheran yang tidak akan mundur meskipun tekanan militer dari AS terus meningkat.

Perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini telah menyebar ke seluruh kawasan Timur Tengah dan mengguncang perekonomian global. Konflik ini berdampak langsung terhadap ratusan juta orang di berbagai belahan dunia, meskipun gencatan senjata sempat berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Situasi di Selat Hormuz kini menjadi titik kritis yang dapat menentukan arah eskalasi selanjutnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar